Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Monday, January 7, 2013

SENI BERBURU DISKON

Pernahkah mengunjungi hajatan diskon tengah malam, tapi pulang dengan tangan hampa atau barang belanjaan yang minim? Saya pernah! Beberapa kali hal itu terjadi karena pesta diskon itu diselenggarakan di tanggal tua, sementara gajian masih harus menunggu awal bulan. Penyebab lainnya adalah seringkali harga barang setelah diskon masih terasa mahal. Atau jenis barang yang mengalami penurunan harga tidak sesuai incaran atau kebutuhan saya.

Beberapa kali mengalami kekecewaan membuat saya justru mengadakan pengamatan kecil-kecilan. Umumnya pengisi ruang-ruang di sejumlah mal terkemuka adalah beberapa merek ternama. Umumnya potongan harga yang diberikan tergolong seragam.

Jadi bagaimana bisa mendapatkan label kelas menengah dengan harga yang jauh lebih miring?

Beruntunglah mereka yang tinggal di kawasan sub urban Jakarta. Bagi mereka penduduk sejumlah kota satelit pendukung Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor, lebih mudah untuk mendapatkan barang-barang mode dengan harga diskon yang lebih miring. Di kawasan kota satelit lebih mudah menemukan mal kelas B, dimana gerai-gerai fesyen memberikan potongan harga lebih besar. Mengapa? Teori saya karena label-label tersebut perlu menjàga citra sekaligus omzet melalui berjualan di mal-mal terkemuka. Sementara itu tujuan yang hendak dicapai lewat memberikan potongan harga yang sangat miring adalah menghabiskan stok lama. Pengalaman saya mendapatkan kemeja yang dirilis saat lebaran lalu seharga 400 ribu pada sejumlah mal terkemuka di akhir tahun hanya dengan membayar 79 ribu rupiah saja di salah satu mal kecil di Tangerang.

Begitu banyak gerai factory outlet tapi hanya sedikit yang betul-betul outlet pabrik resmi. Agak sulit menemukan factory outlet yang resmi dari brand lokal ternama. Sulit bukan berarti tidak bisa atau tidak ada kan? Saya menemukan factory outlet resmi dari sebuah merek menengah yang cukup dikenal di kawasan Duren Sawit. Harga kaus yang dijual resmi di sejumlah pusat perbelanjaan senilai 150-200ribu. Tapi di factory outlet tersebut dengan potongan harga saya cukup membayar 60 ribu saja. Sementara jika Anda berkunjung ke Bandung sempatkan diri untuk berkelana ke Kawah Putih. Dalam perjalanan menuju ke sana Anda akan menemukan factory outlet produsen busa spons yang sudah digunakan mobil-mobil Jepang dan diekspor ke negeri Sakura itu. Bukan berarti gerai tersebut hanya menjual busa. Anda akan menemukan kasur, bantal, bedcover, kantung tidur dengan harga jauh lebih miring daripada di pusat perbelanjaan ternama.

Sementara untuk berbelanja elektronik dengan harga miring dan garansi resmi cobalah mengecek harga di hypermarket. Terkadang Anda akan dikejutkan dengan menemukan harga yang lebih murah daripada harga pasaran. Saya menemukan harga sebuah pemutar CD dari merek asal Jerman di sebuah hypermarket lebih murah 100 ribu rupiah dibandingkan dengan sebuah jaringan toko elektronik.

Selamat berburu discount hunter!

Sunday, December 5, 2010

PERSPEKTIF

Di Indonesia ini penduduknya lebih banyak yang Luar Negeri Minded..... Yah meski sekarang banyak produk dalam negeri yang diakui luar negeri sebagai produk bagus, tetap saja rasanya kalah bersaing dg image barang2 dari LN.... Tapi responsnya sih sudah mulai membaik ya...

Semalam nonton National Geographic Megacities... yang kok ndilalah ya ditayangkan dua televisi swasta dalam semalam hanya berbeda sejam jarak jam tayang... apakah ini promo terselubung dari pemda DKI? Entahlah, rasanya bisa jadi tapi bisa juga tidak....

Gw sih memilih utk sedikit berpikiran terbuka dan mencoba melihat dari perspektif NatGeo memandang keberhasilan yang sudah dicapai oleh Pemda DKI, di tengah berbagai kemelut yang melanda Jakarta... Agak penasaran juga soalnya melihat kok NatGeo bisa begitu perhatian dengan apa yang sudah dicapai Jakarta, yang rasanya buat gw sepertinya nggak mungkin ada prestasi selain soal Mal yang ternyata Taman Anggrek dan Grand Indonesia itu termasuk dalam 20 mal terbesar di dunia. Padahal kalau mengelilingi dua mal itu rasanya sih kecil2 saja dan sudah cukup terbiasa dengan luasnya hingga terasa agak membosankan.

Dan mengejutkannya ternyata rencana besar Pemda DKI lumayan realistis meski masih dalam tahap pelaksanaan dan belum terlihat hasilnya.

Yang baru terlihat hasilnya adalah Banjir Kanal Timur yang sukses membuat sekitar 2 juta penduduk di kawasan Timur tidak lagi takut kebanjiran di tengah malam. Juga reklamasi pantai untuk mencegah adanya banjir akibat air laut pasang. Serta pompa2 berjumlah ratusan yang akan memompa air ke laut. Serta revitalisasi situ2 atau daerah2 penampung air yang diharapkan dapat menyerap, menyimpan air saat curah hujan meningkat.

Trans Jakarta juga dinilai sebagai sebuah kesuksesan dan berhasil mengangkat isu gender dg adanya pengemudi wanita. Pembangunan infrastruktur jalan layang yang tidak memerlukan pelebaran jalan yang akan membutuhkan dana besar untuk pembebasan lahan. Bahkan teknik pembangunan jalannya yang diterapkan oleh kontraktornya pun dianggap sebagai sebuah terobosan dalam membangun jalan layang di area lahan yang terbatas.

Dan yang paling mencengangkan buat gw adalah ternyata Jakarta memiliki pembangkit listrik tenaga sampah. Ya dari hasil sampah2 organik yang dijadikan kompos, dihasilkan gas metana yang kemudian digunakan sebagai tenaga untuk pembangkit listrik. Memang masih kecil jumlah listrik yang dihasilkan masih 2 Megawatt. Tapi mesin itu ke depannya akan ditambah jumlahnya hingga sekitar 20an kalau gw tidak salah ingat. Gila ya? Dulu nonton di entah di NatGeo atau Discovery gitu negara mana punya pembangkit listrik tenaga sampah, trus gw membayangkan duh seandainya di Indonesia ada juga.... Eh kok ya tak diduga tak disangka ternyata punya.... Bangga deh jadinya kalau kita nggak kalah dengan mereka yang di luar...

Hebat juga ya ternyata Pemda DKI. Padahal kalau di twitter lebih sering dimaki-maki oleh penduduknya. Dan kejadian seperti ini ternyata berlaku untuk pemerintah di Merapi yang dianggap lamban, tapi justru oleh orang Eropa yang nekad mengunjungi Merapi saat meletus malah kagum atas kesigapan pemerintah dan TNI dalam menangani permasalahan pengungsi Merapi dengan segala kekurangannya.

Memang kalau sehari-hari berkutat dengan masalah yang sama kadang kita suka lupa melihat dari perspektif yang berbeda. Dan rasanya memang yang bisa membukakan mata dan perspektif kita hanya orang asing yang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasa kita lihat.

Sunday, August 8, 2010

MERANCANG RUANG KELUARGA



Saat ini merancang sebuah ruang keluarga rasanya seperti sesuatu yang mengada-ada. Keberadaannya antara ada dan tiada, antara butuh dan tidak butuh. Seringkali malah menjadi semacam piala, dipajang saja karena keindahannya tapi tidak berguna.
Mengapa begitu? Karena saat ini budaya keluarga berbeda dengan pada dekade-dekade yang lalu di abad lampau. Bahkan di kota besar seperti Jakarta rasanya hampir mustahil menemukan sebuah keluarga dimana semua anggotanya duduk bersama di ruang makan untuk makan malam pada pukul tujuh malam atau bercengkerama menonton televisi bersama di ruang keluarga. Pekerjaan, kemacetan, dan tuntutan gaya hidup yang makin tinggi membuat semua kebiasaan rumahan itu makin lama makin terkikis. Lebih mudah mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk duduk bersama dan makan malam di mall ketimbang di rumah sendiri.

Dulu ruang keluarga identik sebagai tempat berkumpul bersama seisi keluarga dengan televisi menjadi pusat kegiatan. Sambil menonton televisi dulu keluarga saya termasuk pembantu ikut menonton televisi bersama-sama di ruang keluarga. Ayah saya sih memang tidak terlalu suka menonton televisi. Namun ia terbiasa membaca koran hari itu di meja makan yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Sambil mengobrol tentunya.

Saat ini, dengan meningkatnya kesejahteraan, yang sepertinya dialami hampir oleh semua keluarga kelas menengah, kebersamaan di ruang keluarga terasa menjadi sesuatu yang langka dan mahal harganya. Apalagi di tengah kesibukan setiap anggota keluarga. Tetapi hal ini diperparah dengan adanya televisi di setiap kamar tidur. Belum termasuk komputer dengan sambungan internet. Banyak tradisi lama yang dilakukan untuk mempererat tali kekeluargaan, sekarang mulai hilang dan digantikan oleh ponsel, internet dan situs jaringan sosial.

Oprah Winfrey dalam acara bincang-bincangnya pernah bersabda, “Jangan meletakkan televisi di kamar tidur.“ Saya sependapat Oprah. Dengan adanya perangkat televisi, pemutar vcd-dvd ditambah komputer lengkap dengan akses internet bebas di kamar tidur masing-masing apa yang akan terjadi dengan anggota keluarga kita yang masih muda? Ditunjang dengan kondisi kedua orang tua yang sama-sama bekerja di luar rumah.

Saat ini saja akses internet dapat dengan mudah dilakukan melalui ponsel. Gambar-gambar porno tersebar cepat lewat fasilitas MMS. Dahulu saat internet dan teknologi ponsel belum sepopuler sekarang saja, bukanlah masalah yang sulit untuk anak-anak remaja mendapatkan media pornografi.

Akan lebih baik jika kita merancang ruang keluarga memang sebagai tempat berkumpul seluruh keluarga. Dan hal itu berarti mengurangi segala fasilitas kenyamanan dan kemewahan di setiap kamar tidur. Meskipun ada saatnya untuk menyendiri, tetapi saat-saat bercengkerama bersama seluruh anggota keluarga tentu memiliki nilai yang sama berharganya. Tidak ada salahnya mengorbankan kepentingan pribadi dan anak-anak untuk kepentingan seluruh keluarga yang pada akhirnya menyangkut kepuasan batin pribadi juga. Memang untuk menghidupkan suasana dalam ruang keluarga diperlukan komitmen seluruh anggota keluarga, paling tidak dimulai dari orang tua terlebih dahulu. Komitmen tersebut dimulai dari yang sederhana, menyediakan waktu untuk seluruh keluarga melakukan aktivitas bersama-sama dalam satu ruangan. Aktivitas itu terdiri dari beragam pilihan misalnya bermain games, menonton film atau televisi hingga memasak dan makan bersama.

Sebagai contoh bisa Anda simak apa yang diangkat oleh Kompas, Minggu,, 25 Juli 2010 tentang ruang keluarga pasangan Ahmad Ramdhani-Miranti dalam Urban, Aku & Rumahku. Pasangan ini merancang sebuah ruang keluarga yang terbuka dengan menempatkan perangkat seperti televisi, komputer maupun laptop dengan fasilitas internet dalam satu ruangan besar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari agar anggota keluarga mereka terhindar dari aktivitas yang menyimpang dengan adanya kebersamaan dimana semua anggota bisa saling mengawasi satu dengan yang lainnya. Dengan menempatkan berbagai perangkat tersebut dalam satu ruangan besar, kedua pasangan ini berhasil menghapus kesan kontrol berlebihan yang cenderung mengekang kebebasan dan keinginan anak-anak.

Wednesday, July 28, 2010

GRAHA MEWAH GUBUK MUNGIL, SEBUAH ANTITHESIS DALAM MEDIA







Begitu banyak media cetak bertema arsitektur, interior, dekorasi terbit saat ini. Baik yang lokal maupun yang lisensi internasional. Kondisi ini benar-benar memanjakan para pemerhati dan pecinta keindahan arsitektur, interior, dekorasi dan taman.

Dahulu hanya ada dua majalah, (GRIYA) ASRI dan LARAS, yang mengangkat masalah interior, arsitektur, dan kawan-kawan. Meski majalah wanita seperti Femina pasti mengangkat masalah dekorasi dalam setiap edisinya. Sementara majalah pria seperti Matra juga mengangkat masalah arsitektur. Setelah krisis moneter, herannya perkembangan arsitektur dan interior justru meningkat. Gaya modern simple yang lebih dikenal minimalis menjadi booming. Nama Imelda Akmal mulai dikenal dengan buku-buku interior yang mengangkat masalah interior yang lebih ekonomis. Setidaknya sebelum krismon nampaknya arsitektur dan interior dipandang sebagai sesuatu yang sangat luhung, mahal dan eksklusif. Sementara dengan kondisi krisis moneter, Imelda Akmal dengan buku-bukunya muncul di saat yang benar-benar tepat. Tak heran jika buku-bukunya mengalami cetak ulang berkali-kali.

Fenomena ini diikuti dengan terbitnya media interior dan dekorasi berbentuk tabloid yang jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan format majalah. Tabloid Rumah dan Bintang Home muncul pada momen dengan segmentasi yang tepat di awal dekade 2000. Tabloid Rumah lebih banyak mengupas rumah kalangan menengah dengan arsitektur dan desain interior yang lebih merakyat. Sementara tabloid Bintang Home mengangkat rumah milik selebrita sebagai tajuk utamanya.

Fenomena berlanjut dengar terbitnya majalah-majalah seperti Rumahku, IDEA, dan Tren. Sebagai counter-nya terbitlah majalah Skala+ yang mengangkat soal arsitektural dalam nuansa yang lebih eksklusif serta spesifik. Media yang memiliki spesifikasi khusus juga akhirnya terbit seperti Housing Estate, Indonesia Design, Apartemen, Audiovisual atau Property.

Pada akhir dekade 2000 Bazaar Living mulai diperkenalkan ke khalayak sebagai sisipan dari majalah Harper's Bazaar. Tetapi pada kelanjutannya penerbitnya lebih berkonsentrasi untuk Bravacasa, sebuah majalah dengan lisensi dari Italia serta Bazaar Wedding yang membahas segala sesuatu yang terkait dengan pesta pernikahan.

Lewat tangan dingin Dian M. Muljadi-lah, Bravacasa berhasil membawa interior dan dekorasi rumah ke tingkat inggil. Bravacasa seakan berhasil melangkah lebih maju dengan menetapkan standar yang lebih tinggi untuk media cetak interior dan dekorasi. Sejak saat itu muncullah media-media dengan konsep yang hampir serupa. Seperti Elle Decoration, Gatra Living dan High End Living. Hingga yang terakhir muncul adalah Martha Stewart Living.

Memang segala sesuatu selalu memiliki kontrasnya. Sederhana kontras dengan kemewahan. Semuanya akan mencapai titik keseimbangannya sendiri.

Meskipun media dengan segmentasi kelas menengah ke bawah, bukan berarti tak menampilkan karya-karya interior yang mewah. Seperti tabloid Bintang Home sempat memuat hunian bukan hanya dari selebrita lokal tapi juga Hollywood yang mengadaptasi artikel dari Architectural Digest. Sementara media dengan segmentasi kelas A-B, bukan berarti tak menyajikan gaya interior yang lebih personal. Seperti Elle Decoration yang menampilkan hunian milik perancang busana Matthew Williamson yang eksperimental.

Media dengan oplah terbesar seperti Kompas pun melakukan kontras dengan eksklusifitas dan memilih mengangkat hunian dengan sentuhan personal dari seniman terkemuka hingga orang kebanyakan yang memiliki hunian dengan nilai sentimentalnya sendiri. Meski kadang tak tampil semenarik dengan hunian mewah dalam media seperti Bravacasa atau Elle Decoration, hunian dalam rubrik, Aku dan Rumahku, di Kompas Minggu selalu memiliki kisah yang menarik untuk diikuti.

Memang menampilkan hunian dengan interior yang tertata sempurna dapat dipastikan akan tampil sungguh menarik. Hanya saja tanpa sentuhan personal seringkali sebuah hunian dalam tampilan dengan pencahayaan dan teknik fotografi yang terbaik dapat dipastikan terlihat begitu steril serta kehilangan jiwa dari penghuninya sekaligus terasa mengintimidasi. Tetapi hunian dengan sentuhan personal yang berlebihan juga terkadang terasa tak seimbang.

Jadi bagaimana menyeimbangkannya adalah sebuah tantangan tersendiri.

Tuesday, April 20, 2010

TEH BOTOL SOSRO DAN KAMPANYE HIJAU

picture courtesy of: mata pelangi


Well, recently I read SWA magazine. Di sana tertulis kalau teh botol Sosro telah menjadi warisan budaya dan mungkin bisnis serta gaya hidup orang Indonesia. Menurut SWA, tbSosro berhasil membawa gaya baru dalam minum teh. Dari sebelumnya teh seduh menjadi teh siap minum. Ya di seluruh dunia memang teh botol siap minum sepertinya memang ditemukan di Indonesia. Dan yang menjadi kebanggaan adalah penjualan teh botol Sosro di Indonesia sempat mengalahkan penjualan Coca Cola. Hebat bukan? Meski rekor ini sudah saya ketahui sejak lama, tapi saya diingatkan kembali. Dan rasanya nasionalisme ini timbul kembali membaca apa yang sudah dicapai oleh teh botol Sosro. Tak perlu upacara mengerek bendera tinggi-tinggi.



Saya sih baru terbuka mata soal bagaimana jalur distribusi dan sistem isi ulang dengan botol kaca yang digunakan oleh teh botol Sosro.



Ada begitu banyak minuman baik teh atau bukan yang didesain dengan menggunakan tetra pack, sehingga kita bisa membawa dan langsung meminum dan membuang kemasannya. Memang lebih praktis. Jauh lebih praktis malah. Tapi yang menjadi keprihatinan saya adalah rancangan dengan kemasan tetra pack itu rasanya sangat tidak berwawasan ulang. Bayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan setelah kita membuang kemasan dari minuman yang kita minum? Saya tidak bermaksud menyudutkan produsen tetra pack. Pada satu titik kita tetap membutuhkan kemasan tetra pack.



Saya sendiri tidak dapat menghitung perbandingan antara seberapa jauh polusi yang dihasilkan dengan sistem isi ulang dengan sistem sekali pakai buang. Karena untuk sistem isi ulang diperlukan jalur distribusi yang kuat. Itu berarti penggunaan kendaraan yang lebih banyak menghabiskan bahan bakar yang mana juga mengakibatkan emisi gas buang karbon yang tinggi.



Tetapi jika saya telaah, dari hadapan mata saja sudah terlihat mana yang lebih menghasilkan sampah. Bisa saja kemasan tetra pack didaur ulang menjadi produk lain. Tapi rasanya dengan penggunaan botol kaca yang dipakai berulang kali jauh lebih baik ketimbang mendaur ulang menjadi produk baru. Karena belum tentu produk baru tersebut bisa didaur ulang lagi. Sementara botol kaca yang jika pecah tentu masih bisa didaur ulang kembali menjadi botol juga.



Saat dimana orang mengumandangkan kampanye hijau, entah mengapa tidak dikampanyekan penggunaan botol kaca dan sistem isi ulang sebagai bagian dari promosi? Dulu label kosmetik seperti Body Shop pada awal kehadirannya di Indonesia sempat mengkampanyekan sistem isi ulang. Tapi entah bagaimana sekarang kelanjutannya. Mungkin penggunaan botol plastik dirasa tidak begitu memungkinkan. Atau isu perempuan dan KDRT dirasa penting untuk diangkat.



Aqua menggunakan sistem isi ulang untuk galon. Sayangnya penggunaan kemasan botol/gelas plastik masih jauh lebih tinggi. Memang hal ini disesuaikan dengan konsepnya untuk, fungsi, kepraktisan dan pangsa pasar.



Saat ini juga di warung/toko kelontong tradisional kita masih bisa membeli Coca Cola ukuran besar dalam kemasan botol kaca dengan sistem isi ulang. Tapi rasanya semakin lama, semakin ke tengah kota, yang dijual di minimarket modern maupun hiper/supermarket lebih banyak yang terbuat dari plastik. Memang sistem isi ulang jauh merepotkan dikarenakan harus menyediakan ruang untuk menyimpan botol2 kosong sebelum dibawa kembali ke pabrik.

Semestinya penggunaan sistem isi ulang ini bisa diterapkan pada barang-barang kebutuhan sehari-hari, hanya saja masih dirasa tidak praktis dan tidak ekonomis sehingga tidak menjadi satu keputusan bulat.



Tapi rasanya kampanye hijau tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja. Produsen sudah berusaha untuk mengurangi sampah dengan menggunakan sistem isi ulang. Konsumen perlu disadarkan dengan kampanye terus menerus untuk gaya hidup yang lebih berwawasan lingkungan. Sementara pengecer sendiri perlu untuk melakukan usaha mendukung apa yang sudah dikerjakan oleh produsen dan konsumen selain mengurangi penggunaaan kantong belanja dari plastik.

Sunday, April 11, 2010

LAYAR, KACA SPION & TELEVISI LAYAR DATAR

Sekitar 6 bulan yang lalu saya memutuskan untuk membeli motor secara kredit untuk membantu mobilitas saya. Setelah mengendarai motor saya kemudian baru menyadari ada yang salah dengan kaca spion saya. Sebelumnya di tahun 2005 saya juga pernah mengendarai motor fasilitas dari kantor tempat saya bekerja dulu. Tapi saya sendiri tidak begitu memperhatikan kondisi kaca spion sepeda motor yang saya gunakan saat itu. 

Saat saya masih kanak-kanak saya masih ingat ketika saya bersama orang tua mengendarai sepeda motor Honda di awal dekade 80-an. Seingat saya kaca spion saat itu menggunakan kaca cermin cembung. Seperti halnya di mobil. Tapi nampaknya saat ini kebanyakan kaca spion menggunakan cermin datar bukan cembung. 

Saya tidak tahu atas pertimbangan apa produsen motor memutuskan untuk menggunakan cermin datar daripada cermin cembung. Apakah karena lebih ekonomis sehingga dapat menekan harga jual mobil dan motor.

Saat menggunakan cermin datar saya menyadari -entah mungkin saya yang salah atau memang sudah seharusnya seperti ini- ada blind spot atau area di samping motor yang sangat dekat yang justru tidak tertangkap oleh cermin datar pada kaca spion. Jadi seringkali saat harus berbelok atau mengambil jalur baru saya -dan saya perhatikan pengendara motor lainnya juga- harus secepat kilat menoleh ke samping belakang untuk memastikan tak ada kendaraan di samping motor. Sebenarnya hal ini agak menyulitkan karena harus memastikan posisi kendaraan di depan juga tidak terlalu dekat sehingga bisa tertabrak saat menoleh ke belakang.

Seandainya menggunakan cermin cembung tentu gerakan menoleh ke belakang ini tidaklah terlalu perlu. Permukaan cembung tentu akan membuat situasi kondisi yang tertangkap di bidang cermin akan lebih luas. Tetapi menggunakan cermin cembung bukan berarti tanpa masalah. Cermin cembung membuat jarak yang sempit terlihat lebih besar. Sehingga jika kita kurang perhitungan tentu juga bisa terjadi terserempet kendaraan lain karena kita mengira jarak antara motor dengan kendaraan lain masih jauh.

Berbicara soal cermin cembung tentu terkait dengan pembiasan. Saya juga agak heran dengan begitu populernya televisi layar datar dan tipis. Saya bukan anti dengan yang televisi gemuk. Saya juga tidak mengerti mengapa televisi plasma atau LCD didesain dengan bentuk yang populer dengan sebutan wide. Apa karena langsing maka untuk menyeimbangkan bentuknya harus dibuat melebar ke samping? Atau ada pengaruh langsung dari penempatan LED di layar televisi yang membuat desainnya harus lebar. 

Kalau saya pribadi lebih menyukai proporsi tinggi dan lebar dari televisi yang gemuk tempo dulu. 

Bukan apa-apa, televisi layar lebar menurut saya membuat tampilan gambar jadi distorsi. Orang terlihat lebih lebar, lebih gemuk, juga lebih pendek. Bangunan terlihat lebih lebar dan lebih pendek. Entah mungkin semakin kini, bisa jadi mungkin hal itu teratasi. Tapi rasanya saya belum melihat perkembangan berarti mengatasi distorsi proporsi tampilan gambar itu. 

Padahal efek sampingnya juga ada lho. Meski lebih banyak terpapar pada mereka yang sering tampil di layar televisi. Kamera membuat penampilan seseorang terlihat 5kg lebih berisi. Sementara televisi layar lebar membuat penampilan seseorang terlihat 10kg lebih lebar dan berisi. Ditotal jadi 15 kg. Tak heran jika banyak bintang merasa dirinya gemuk dan terjerat dalam kelainan seperti bullimia dan anorexia. Mungkin mereka melihat proyeksi diri mereka di televisi layar datar nan lebar terlihat jauh lebih gemuk sehingga membuat mereka menjadi paranoid.

Tuesday, January 12, 2010

BANNER IS BIG NO FOR YOUR WEDDING

Belakangan ini dari pesta pernikahan di rumah di kampung hingga ke balai pertemuan yang bertempat di gedung-gedung megah sekalipun, ada fenomena memasang banner bergambar pasangan pengantin di samping meja penerima tamu.

Banner yang biasanya digunakan untuk kepentingan komersial, menjadi trend pada pesta pernikahan belakangan ini. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan ide murahan ini.

Memang lebih murah membuat banner ketimbang foto kanvas untuk dipajang di samping meja penerima tamu. Tapi kesannya malah menjadi murahan. Daripada tak mampu membayar foto kanvas, saya lebih menyarankan untuk tak memasang banner sekalian. Lagipula tidak harus foto kanvas bukan. Cetak foto biasa juga bagus asal dibingkai dengan apik. Yang murah belum tentu tidak bisa tampil mewah. Prinsipnya adalah 'nothing looks cheap on me'.

Selain terkesan murahan, citra banner sebagai alat promosi komersial, alat jualan, itu terlalu kuat.

Sekarang bayangkan di meja penerima tamu, Anda mengisi buku tamu. Setelah itu menyelipkan amplop angpao ke dalam kotak. Di samping meja penerima tamu terdapat banner pasangan pengantin. Yang ada di dalam benak pikiran saya kok malah seperti akan menonton pertunjukkan komersial sebuah pesta pernikahan yang dilakoni sepasang pengantin yang tergambar di dalam banner tersebut. Ketimbang hadir dalam suatu pesta pernikahan yang sakral dan hangat. Banner tersebut malah mengurangi kesan sakral pesta pernikahan itu dengan menampilkan kesan seperti di bioskop. 'Now Playing Wedding Ceremonial of ....." Bayar tiketnya di kotak angpao.

Banner for your wedding is a big NO NO!!

Wednesday, January 6, 2010

Repost: Apa Yang Perlu (Dan Tidak Perlu) Dilakukan Ketika Bekerja Dengan Desainer

Bayangkanlah anda sebagai Christoper Columbus. Anda tiba di Dunia Baru dan kecewa karena tidak ada sama sekali sutra dan rempah-rempah oriental yang menjadi tujuan utama lalu beputar dan pulang, dan kehilangan kesempatan untuk melihat berbagai keindahan dari Dunia Baru.

Itulah yang terjadi ketika anda mempunyai praduga yang salah tentang desain. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tetapi TIDAK melihat dan menghargainya karena anda hanya berfokus pada kenyataan bahwa semuanya tidak sesuai dengan pikiran anda. Ingatlah bahwa ANDA adalah bagian penting dari proses desain. Jika anda bukanlah klien yang baik, maka anda tidaklah dapat mengharapkan hasil yang baik.

Praduga yang salah adalah cuma salah satu dari kesalahan yang dibuat orang ketika mereka bekerja dengan desainer. Sebuah hasil karya yang bagus dari desainer akan membuat sesuatu :
• bekerja lebih baik
• terjual lebih baik
• memberikan cahaya baru pada obyek lama
• terlihat lebih baik

Masalahnya adalah, banyak orang memperkerjakan desainer karena mereka ingin website mereka "terlihat bagus". Tetapi itu hanyalah mancakup permukaannya saja dari apa yang seorang desainer bisa dan seharusnya dilakukan. Jadi, mereka tidak mengetahui apa yang mungkin terjadi, sehingga mereka tidak mendapatkan hasil yang maksimal dari uang yang mereka bayarkan.

Seorang penulis bukan hanya seorang yang bisa mengetik, desainer bukanlah hanya seorang yang dapat menggunakan program grafis. Desain yang bagus adalah lebih dari sekedar kulit yang dalam.
DESAIN ADALAH KOMUNIKASI.

Cara untuk menginspirasi seorang desainer adalah memberikan mereka pesan dan rasa yang anda ingin capai, dan kebebasan untuk mencapainya dengan cara yang segar dan baru.

Jadi, bagaimana anda bekerja dengan desainer untuk mendapatkan hasil terbaik mereka ? Disini ada beberapa usulan :

  1. Pilihlah desainer anda secara hati-hati. Lihatlah karya-karya mereka sebelumnya. Desainer terbaik tidak memiliki "style yang terlihat". Website mereka akan terlihat berbeda sebagaimana perbedaan yang ada pada klien-klien mereka. Penghargaan tidaklah selalu berarti bahwa desainer bekerja untuk klien. Jika anda tidak yakin dengan sebuah desain, lihatlah website mereka dan tanyalah klien mereka.
  2. Tinggalkan praduga yang belum tentu benar di pintu depan. Jangan meminta sebuah website yang seperti milik orang lain tetapi dalam warna yang berbeda. Terbukalah terhadap ide yang baru dan diluar dugaan. Jangan takut pada sesuatu yang berbeda. Biarkanlah ide-ide baru mengalir.
  3. Katakan pada desainer apa yang ingin anda capai, bukannya bagaimana anda menginginkan sesuatu terlihat. Jangan meminta sebuah warna, bentuk, atau style. Mintalah arti atau emosi.
  4. Pastikan tentang fitur spesifik yang anda butuhkan. Anda ingin desainer anda untuk membuat sebuah spesifikasi desain yang anda inginkan. Jika anda mencoba untuk menambahkan fitur selama perjalanan, desainnya tidak akan cocok
  5. Kerjakan riset anda dan jelaskan secara spesifik tentang kebutuhan anda. " Saya ingin menjual meeting planner berdasarkan ide bahwa saya bisa disewa untuk pembuatan kostum untuk acara-acara mereka. " Hal tersebut jelas dan spesifik tentang produk dan pemirsanya. Semakin detil dan spesifik saat permulaan, semakin baik daya kerja desainer untuk membuatkan website untuk kebutuhan anda. Jika anda menambahkan kebutuhan anda di kemudian hari, sang desainer kemungkinan hanya bisa untuk menyelipkannya, dimana ini tidak akan memberikan anda hasil yang terbaik.
  6. Pastikan pesan dan isi anda telah jelas. Semakin siap isi yang ingin anda masukkan, semakin baik desainer dapat membuat website anda. Seorang desainer yang bagus dapat membuat usulan untuk memperjelas isi content anda agar pesan yang ingin anda sampaikan dapat dipahami lebih cepat dan lebih jelas. Tetapi semakin banyak isi content yang telah siap, semakin banyak yang bisa dikerjakan oleh desainer.
  7. Desainlah untuk pelanggan anda, bukan untuk anda sendiri, teman anda, atau kolega anda. Jelaskan secara spesifik sehingga desainer anda tahu bagaimana pelanggan anda dan apa yang mereka inginkan. Adalah lebih penting jika mereka menyukai website anda daripada anda sendiri. Selalu ingatlah "Apa yang diinginkan mereka". Jika desainnya meyenangkan hati pelanggan anda, mereka akan meyenangkan anda. Jika anda bertahan pada desain yang hanya menyenangkan hati anda, maka pelanggan pun mungkin tidak akan tertarik untuk membeli produk atau layanan dan pada akhirnya, anda akan kalah.
  8. Milikilah alasan yang baik untuk pilihan anda. Anda dapat menunjukkan pada desainer situs yang menarik hati anda, tetapi galilah lebih dalam dan jelaskanlah mengapa situs tersebut menarik hati anda. Berpikirlah dalam konteks perasaan. Desain membuat anda merasa, jadi beritahu desainer anda bagaimana desain tersebut menarik perasaaan anda. Daripada berkata "Saya suka warna kuning", galilah ke akarnya dan berkata "Saya ingin situs yang terasa hangat" atau "Saya ingin sesuatu yang riang dan bersahabat." Berfokus pada kesan logis dan emosional anda akan memberikan desainer hal yang lebih banyak untuk dikerjakan. Kenapa ? Karena pelanggan anda mungkin tidak "suka" hal yang sama dengan anda, tetapi desainer yang baik dapat menterjemahkan kesan yang adan ingin pelanggan anda dapatkan.
  9. Jangan mendesain dengan komite. Tidak ada desain yang bagus yang pernah tercipta dari kesepakatan bersama. Semakin banyak orang yang memiliki suara dalam proses, semakin bias desain yang dihasilkan. Teman-teman dan rekan-rekan kerja anda akan sering memberikan nasehat yang bertentangan dan orang seringkali memiliki motif tertentu saat memberikan komentar (mereka mungkin iri atau terintimidasi jika anda mendapatkan sesuatu yang terlalu bagus, atau mereka mungkin hanya tidak peduli). Anda dapat menunjukkannya pada beberapa orang yang terpercaya dan mendapatkan komentar mereka, tetapi hanya boleh satu orang yang mengambil keputusan. Jangan terombang-ambing dan mencoba untuk mengubah arah saat-saat terakhir dalam proses.
  10. Jangan memberitahu desainer bagaimana caranya mendesain. Itu bukan keahlian anda. Berikan desainer kebutuhan dan catatan anda, tapi juga beri mereka kebebasan untuk menciptakan sesuatu yang menjawab semua itu seefektif mungkin. Jika anda terlalu mengatur desainer, mereka tidak akan termotivasi untuk melakukan apapun kecuali menguangkan cek anda.
  11. Anda tidak dapat menyenangkan semua orang setiap waktu. Bill Cosby pernah berkata "Satu-satunya jalan yang pasti untuk gagal adalah mencoba untuk menyenangkan hati semua orang." Jika semua berpikir situs anda "OK", maka kemungkinan situs anda terlalu membosankna untuk mendapatkan reaksi dari seseorang. Jika Anda mendesain sebuah situs TANPA kepribadian, tidak ada orang yang membencinya. Atau menyukainya.
  12. Percaya Desainer anda (anda membayar keahlian mereka). Maka ketika mereka mulai menunjukkan desainnya, berikan komentar yang spesifik. Jangan hanya berkata, "Saya tidak suka warna coklat." Itu tidak menunjukkan nilai yang sebenarnya. Jika anda berkata "Saya khawatir warnanya terlihat muram dan kita butuh sesuatu yang menunjukkan pertumbuhan," maka anda memberikan sesuatu yang berguna kepada desainer, karena anda berbicara tentang isinya dan bukan menyuruh mereka bagaimana mendesain sesuatu.

Desainer anda seharusnya lebih tahu dari anda tentang desain dan implikasinya, baik secara emosi maupun kultural. Jadi jika anda meminta sebuah warna dan desainer menerangkan mengapa itu bukan merupakan ide yang bagus, percayalah pada mereka. Jangan meminta warna, bentuk, atau style -- mintalah arti atau emosi.

Ya, desainer dapat membuat kesalahan dan membawa ke arah yang salah. Tetapi anda harus memberitahu mereka apa yang anda butuhkan, bukan bagaimana mendapatkan tujuan tersebut.
Alasan dari banyaknya penemuan besar menjadi celaka adalah ketika anda memulai dengan satu tujuan di kepala kemudian berakhir di tempat lain yang anda rasa anda kehilangan arah dan tersesat.

Kenyataan sungguh berbeda -- anda mungkin berakhir di tempat yang berbebda -- tetapi lebih baik. Tetapi jika anda hanya melihat sesuatu dalam konteks "Tujuan saya disana dan saya sekarang tidak disana" maka anda akan kecewa, bahkan jika anda menemukan sesuatu yang lebih baik.

Jadi, ketika bekerja dengan desainer, anda butuh mundur selangkah dan bertanya kepada anda sendiri apakah anda sedang menjadi Columbus, melewatkan keajaiban dari dunia baru.

Sumber : How to (and not to):
Work with Desainer
by Daniel Will-Harris

Saya harap tulisan singkat ini dapat membantu anda dalam memilih designer, baik itu designer interior ataupun designer grafis.

salam,...^^v


courtesy of: Design My Room

Tuesday, December 15, 2009

RUMAH TUMBUH

Di Indonesia dikenal adanya konsep rumah tumbuh. Dari penuturan salah satu arsitek pionir Indonesia, Han Awal, konsep rumah tumbuh menyesuaikan bagaimana keluarga Indonesia tumbuh. Mulai dari sebagai pasangan menikah. Memiliki anak satu. Kemudian bertambah menjadi dua atau tiga dan seterusnya. Memiliki pembantu. Memiliki mobil. Memiliki menantu. Kemudian anak dan menantu keluar dari rumah untuk berdikari. Memiliki cucu.
Semua proses tersebut berpengaruh terhadap bentuk rumah. Awalnya hanya memiliki dua kamar tidur. Kemudian harus menambah kamar satu lagi karena memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda. Awalnya tak memiliki kamar pembantu jadi perlu untuk memiliki kamar pembantu. Karena anggota keluarga bertambah otomatis memerlukan tambahan ruang. Bisa dimulai dari ruang untuk gudang penyimpanan, perluasan ruang keluarga, menambah garasi karena baru membeli mobil. Karena tak cukup satu mobil garasi perlu diperluas karena harus membeli yang baru. Saat anak menikah harus memiliki kamar yang lebih luas hingga memerlukan renovasi kembali.

Pada intinya proses kehidupan masyarakat Indonesia begitu mempengaruhi interior maupun arsitektur rumahnya sendiri. Coba perhatikan bagaimana perumahan-perumahan baru maupun lama di Jakarta. Begitu banyak perubahan dilakukan tanpa memperhatikan kaidah2 interior maupun arsitektur. Fasad bangunan yang sudah cantik bergaya mediteranian, klasik tiba2 dirusak oleh atap kanopi polycarbonate berbahan stainless steel yang bergaya antah berantah. Sebuah perubahan yang tanpa selera estetika. Padahal rumah tersebut bukan murah. Ini juga menunjukkan ungkapan money can't buy taste. Punya uang bukan berarti punya selera.

Teman saya pernah mengeluhkan kalau rumah di kawasan Cibubur. Menurutnya kalau kita berada di dalam rumah hawanya terasa benar-benar panas. Saya sendiri baru dua kali berada di perumahan di kawasan Cibubur. Tapi menurut saya hawa panas di dalam rumah ini memang bukan saja fenomena rumah di kawasan Cibubur tapi sudah menjalar ke mana-mana, seluruh penjuru Jakarta dan kota-kota pendukung di sekitarnya.

Mengapa demikian?

Udara mengalir memerlukan alur sirkulasinya sendiri. Rumah-rumah yang mungil maupun besar saat ini umumnya dirancang dengan menyediakan taman belakang yang cukup mungil untuk membuat udara dari depan mengalir masuk dan keluar melalui void atau bukaan halaman di belakang rumah.

Nah karena kekurangan ruang akhirnya ditutuplah halaman belakang untuk mendapatkan ruang baru. Alhasil sirkulasi udara tidak mengalir dari depan ke belakang, hawa menjadi panas, diputuskan untuk menggunakan AC. Menambah jumlah AC berarti meningkatkan penggunaan listrik, meningkatkan biaya listrik, menambah kontribusi terhadap pemanasan global.

Sebenarnya yang menjadi sedikit kegelisahan saya adalah kebiasaan orang Indonesia untuk merubah rumah tanpa perhitungan arsitektur, desain dan konsep yang mendalam. Hasilnya arsitektur atau desain yang sudah dipikirkan secara matang-matang harus ternodai. Ternodai bukan semata-mata soal image rumah yang menjadi acak adut nggak jelas. Tapi juga dari aspek2 fungsinya menjadi tidak maksimal. Sebagai contoh ya sirkulasi udara tersebut.

Tidak ada salahnya membayar arsitek atau desainer untuk konsultasi singkat, tanpa gambar kerja yang lengkap untuk menghemat biaya demi mendapatkan desain yang lebih maksimal. Tapi seringkali yang terjadi pemilik rumah hanya berkonsultasi pada tukang atau pemborong yang tidak memiliki konsep yang jelas, tak berselera, selain pengerjaan dan mengeruk keuntungan. Dan hasilnya memang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara konsep desain.

Sebenarnya bukan soal desain dan arsitektur saja yang perlu dipertimbangkan. Tapi soal kebutuhan. Rasanya kalau memang dituruti kebutuhan akan ruang tidak akan pernah habis. Tapi mungkin dana tidak memadai untuk membeli rumah yang lebih besar. Sementara kebutuhan untuk ruang mendesak.

Tapi coba ditelaah lagi. Apakah memang mendesak?

Kadang rasanya hanya karena ada uang lebih lantas kita buru2 ingin menambah ruang, menambah pergola tanpa memperhitungkan berbagai aspek lainnya. Mungkin ada baiknya kita justru mengefektifkan ruang yang ada, lebih efisien menggunakan furniture dan barang, lebih mengefektifkan kegiatan sehari-hari kita ketimbang merubah arsitektur dan interior rumah kita.

Mengapa saya berpendapat demikian?

Karena terbukti orang-orang Indonesia yang menghuni di apartemen ternyata bisa tetap tidak merubah fisik apartemen mereka baik secara arsitektur dan interior karena keterbatasan dan juga aturan yang sudah disepakati bersama. Itu berarti mereka bisa melakukan ketiga hal yang saya sebutkan di atas kalau memang mau.

Monday, October 26, 2009

THE AMAZING RACE OF SKYSCRAPPER

Melihat persaingan pencakar langit di berbagai negara di dunia rasanya memang menakjubkan sekaligus membuat terengah-engah. Di satu sisi memang menakjubkan dengan berbagai kecanggihan teknologi dalam dunia sipil arsitektur, konstruksi dan teknik bangunan saat ini. Untuk membangun Burj Dubai tentunya tidak mungkin lagi menggunakan teknik-teknik lama. Untuk membawa cairan beton ke ketinggian sekian ratus meter dari tanah tentu membutuhkan teknik dan penelitian lebih lanjut supaya saat saat tiba di lantai yang dimaksud beton tidak sampai mengering. Itu baru dari soal adukan beton. Belum masalah kontruksi yang harus menahan angin gurun serta kondisi cuaca yang drastis perbedaannya antara siang dan malam hari.

Pernahkan Anda membayangkan bagaimana cepatnya lift yang akan digunakan nanti di Burj Dubai? Untuk mencapai ketinggian tertentu di Burj Dubai tentu tidak mungkin menggunakan lift-lift seperti yang ada di gedung-gedung perkantoran atau apartemen di Jakarta saat ini. Tentu akan menyita banyak waktu jika kita hendak menuju lantai-lantai di tempat yang tinggi.

Membangun gedung-gedung pencakar langit yang tinggi tentu membutuhkan bukan hanya dana besar tapi juga teknologi tinggi untuk membangunnya. Dan yang paling penting adalah segi keamanan dan keselamatan.

Yah yang namanya gempa, kebakaran atau serangan terorisme siapa sih yang bisa meramalkan? Memang untuk kebakaran, sudah ada sistem antisipasinya. Mulai dari smoke detector, yang bekerja dengan mendeteksi asap. Sprinkler yang menyemprotkan air setelah mendeteksi suhu ruangan yang naik akibat kebakaran. Dan alarm yang memberikan peringatan berdasarkan deteksi asap dan sprinkler. Sementara untuk jalan keluar ada tangga darurat.

Cuma yang jadi masalah kan mau seberapa ampuh semua itu kalau kita berada di ketinggian yang nun jauh di atas sana rasanya percuma saja jika kejadian macam World Trade Centre di New York terjadi. Kalau kebakaran berada di lantai 30 sementara kita berada di lantai 50? Apa yang bisa kita lakukan? Mau meloncat? Apa helicopter bisa menyelamatkan? Apa tangga darurat tetap tahan api? Apa tangga mobil pemadam bisa mencapai kita?

Ya mungkin memang waktunya untuk kita mati dengan cara seperti itu. Tapi apa iya kita mau mati seperti itu. Lebih tepatnya apa iya bangunan tempat kita bekerja memang dirancang supaya kita mati seperti itu?

Ya memang sih di perkotaan lahan semakin sempit dan mahal. Tapi apa memang tidak ada cara lain? Apa memang harus membangun sebegitu grande-nya?

Kadang pemikiran saya desain dan arsitektur dibuat untuk hidup lebih jumawa ketimbang hidup lebih berkualitas. Seakan-akan lebih tinggi, lebih besar, lebih indah lantas semua persoalan hidup selesai. Setahu saya semua persoalan hidup selesai saat kita meninggal.

Setiap kali selesai pembangunan sebuah pencakar langit dengan rekor baru, umumnya selalu diikuti oleh krisis moneter. World Trade Centre menandai krisis yang melanda Amerika pada akhir tahun 1970an. Petronas menandai krisis moneter Asia pertengahan akhir 90an. Dan sekarang Burj Dubai ternyata menandai krisis hutang akibat hutang yang terlampau besar akibat mengejar kemewahan berkelebihan.

Sunday, October 18, 2009

PANTRY vs KITCHEN

Mungkin ada baiknya kalau kita mengenal beda kitchen dan pantry. Kitchen adalah dapur atau ruang tempat menyiapkan dan memasak makanan. Sedangkan pantry yang berasal dari bahasa Perancis 'paneterie' adalah tempat menyimpan perlengkapan masak, bahan2 makanan dan tempat menyiapkan bahan-bahan sebelum diolah di dapur.

Di dapur ada konsep segitiga dapur yang mencangkup kompor, sink/tempat cuci piring dan lemari pendingin.

Sementara pantry sebenarnya lebih merupakan tempat penyimpanan dan penyajian praktis makanan atau minuman terutama di tempat yang memiliki pengolahan atau penyimpanan anggur. Jadi pada pantry penekanannya ada pada lemari pendingin serta meja penyajian.

Sejak dulu orang Indonesia sebenarnya lebih mengenal konsep dapur ketimbang pantry. Perbedaannya pada saat ini adalah karena kemajuan jaman, paparan informasi dan budaya dari barat, maka orang Indonesia mengadopsi konsep pantry.

Kalau diperhatikan, masakan Indonesia lebih kompleks dalam cara memasaknya. Itu sebabnya konsep dapur sebenarnya lebih cocok untuk digunakan di Indonesia. Sementara konsep dapur ala barat bisa dikatakan lebih steril karena kebiasaan memasak yang lebih praktis ketimbang orang Indonesia. Jadi microwave memang mau tidak mau menjadi alat tambahan di luar 3 alat utama dapur. Atau masih bisa ditambah lagi dengan dishwasher machine. Semua itu karena tuntutan waktu dan kesibukan hingga kepraktisan menjadi alasan utama.

Jika di barat dikenal konsep mini bar sebagai bentuk lain dari pantry dengan spesialisasi sebagai tempat menyimpan minuman. Maka di Indonesia yang tidak terlalu mengenal kebiasaan minum-minum sosial, maka bentuk pantry lah yang diadaptasi. Meski saat ini juga ada yang mulai membuat mini bar lengkap dengan koleksi wine yang beragam.

Di Indonesia pantry dipisahkan dengan dapur kotor atau kitchen dengan alasan area pembantu dan lebih kotor. Ehm apa ini bukti sisa2 feodalisme dalam menyentuh kehidupan rumah tangga? Entahlah. Saya pikir sih yang namanya dapur kalau dipakai memasak pasti kelihatan kotor dan berantakan. Masalahnya adalah apa pengguna dan pemilik dapur bisa lebih rapi, terorganisasi dan rajin membersihkan setelah memasak?

Sepertinya hanya di Indonesia saja rumah tangga kelas menengah atas memiliki dua dapur yang berbeda. Pantry atau dapur bersih dan kitchen atau dapur kotor.

Beberapa orang menganggap ini adalah hasil budaya kelebihan uang. Saya menyebutnya dengan trophy kitchen. Seperti piala, untuk dipamerkan dan dibanggakan tapi sebenarnya tidak berfungsi apa-apa.

Saturday, October 17, 2009

TIPS DUDUK BEKERJA YANG SEHAT

Duduk lama memang tak nyaman. Punggung, bokong menjadi panas. Bahu jadi pegal adalah tanda dari tubuh kita untuk melakukan sesuatu. Inilah tip supaya Anda dapat duduk bekerja dengan sehat:
  1. Tarik kursi kerja lebih mendekati meja kerja supaya dapat duduk dengan benar.
  2. Jangan duduk membungkuk ke depan. Sebaiknya posisi tubuh duduk dengan sedikit rebah ke belakang. Tempelkan punggung Anda pada sandaran kursi supaya beban tubuh bagian atas menyebar. Jadi tidak hanya bertumpu pada tulang ekor. Posisi bungkuk membuat beban pada tulang belakang dan bahu, sehingga mudah lelah.
  3. Ambil sedikit waktu untuk melakukan peregangan. Tubuh kita dirancang untuk bergerak. Toleransi waktu terlama yang dapat ditanggung tubuh untuk duduk manis adalah dua jam. Lewat dari itu tanda-tanda seperti panas dan gelisah akan mulai Anda rasakan. Melakukan peregangan sambil duduk atau berdiri membantu kesehatan tulang belakang, peredaran darah pada punggung serta pernapasan.

Sunday, October 4, 2009

PASSION FOR BATIK

Maaf juga kalo saya terkesan sinis atas euphoria batik ini, bukan saya tidak menghargai upaya pemerintah.

Sebenarnya saya masih tidak/belum/kurang yakin penghargaan dari UNESCO itu atas usaha pemerintah.

Bukan mau show off, saya pakai batik dan punya koleksi kain batik sedikit lebih banyak dan lebih lama dari yg sebagian besar orang kira. Bahkan beberapa koleksi kain batik saya diminta ibu dan adik saya untuk mereka jadikan baju. Ada juga yg diminta saudara yang lain. Oh ya bukan cuma batik sih tapi ada kain tenun juga saya punya. Ada yg dari ibu saya seperti sutra asal Makasar.

Saya bahkan pernah mencoba membatik sejak SMA tahun 1995. Saya beli lilin malamnya, juga beli cantingnya serta kain blacu sebagai bahan eksperimen. Saya coba kerjakan di rumah. Ibu saya saksinya.

Saya pergi ke Gelar Batik Nusantara pada saat pertama kali digelar tahun 1996. Saya coba curi2 baca buku batik Iwan Tirta di Kinokuniya.

Dan saya merasa lebih yakin kalo penghargaan UNESCO itu lebih karena usaha lobby Ibu-Ibu yang tergabung di Wastaprema ketimbang Pemerintah. Beneran lho! Meski pada Kompas hari Minggu, 4 Oktober 2009 ini, Ketua Wastaprema, Ny. Adiati Arifin Siregar, mengakui perjuangan berbagai pihak seperti KADIN Indonesia, komunitas2 batik termasuk Pemerintah dalam perjuangan mengukuhkan Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia.

Kalau Anda tidak tahu tahu Wastaprema itu apa, coba cek di sini

Well, Wastaprema itu himpunan pecinta kain adati Indonesia. Anggotanya bukan cuma ibu2 aja, tapi ibu2 pejabat, ibu2 mantan pejabat, desainer, kalau tidak salah ada juga expatriat yang adalah kolektor kain asal Nusantara. Jadi gak heran kalo mereka lebih luwes melobi UNESCO ketimbang pemerintah. Yah meskipun pasti ada upaya pemerintah di dalamnya, tapi tetap saja rasanya ada yg janggal.

Jadi kalau saya menganggap remeh euphoria orang2 Indonesia soal batik ya karena saya melihat sendiri status seperti ini di fesbuk

"klo seandainya Hari Batik Nasional (2 Oktober) tidak jatuh pada hari jumat, mungkin gw gak akan pake batik. hari ini gw pake batik karena tiap jumatnya emang biasa pake batik. how bout u?"

Jadi ya saya rasa sebagian besar memang tidak cinta-cinta amat sama batik. Cuma perayaan sesaat. Cuma ingin meramaikan saja.

Coba saja lihat di televisi. News Anchor di TV baju2nya? Kalo bukan saat perayaan Hari Kartini, Hari Kemerdekaan atau pas Lebaran dan Natal atau perayaan2 keagamaan mana ada yang mengenakan batik? Kalau yang di televisi saja sehari-hari gak bisa terlihat mengenakan batik gimana mereka yg tidak terpampang di televisi?

Ada yg tahu kalo motif batik kawung itu agak mirip dengan logo Louis Vuitton? Ada yang tahu kalo motif batik kawung itu dipakai oleh desainer Jaya Ibrahim untuk panel penyekat di hotel Darmawangsa? Ada yang tahu nggak kalo teknik batik itu bisa diterapkan pada kayu?

Jadi kalau Bpk. Fauzi Bowo berkoar-koar soal pakai batik pada tanggal 2 kemarin, sebenarnya almarhum Ali Sadikin sudah sejak tahun 70-an menghimbau seluruh jajaran Pemda DKI untuk mengenakan batik demi membantu kelangsungan hidup perajin batik yang waktu itu mulai ngos-ngosan digempur produk garmen.

Yah sebenarnya saya tidak bisa memaksakan orang-orang untuk cinta batik. Tapi ya kalo tidak cinta ya nggak usah ikut-ikutan sok suka/perhatian pada batik.

Kemarin itu rasanya euphoria batik sih menurut saya secara pribadi a lil bit overated. Ya bagus memang sih. Secara UNESCO mengukuhkan batik asal Indonesia sebagai warisan kekayaan dunia.

Cuma rasanya euphoria ini berlebihan mengingat sebagian besar kita baru heboh setelah batik diklaim sebagai warisan budaya Malaysia. Tapi coba pakai batik sehari-hari. Ehm mungkin sebagian besar akan keberatan. Masih ingat jaman kuliah dulu saya pakai batik lengan pendek dan sukses disindir bagaikan pak lurah, pak camat, dsb. Saya tidak tahu apa salahnya menjadi pak lurah dan pak camat. Notabene saya kuliah di fakultas desain lho, seharusnya mahasiswa2nya kan lebih open minded ya? Tapi ya begitulah kondisi di kaum muda waktu itu. Batik termarjinalkan sebelum Edward Hutabarat sukses mengangkat pamor batik kembali menjadi lebih muda dan kontemporer.

Beberapa waktu lalu ada seruan 'malu berbatik cap atau printing' di kompas.com dan account batik Indonesia di fesbuk. Seruan itu langsung menuai kritikan pedas.

Dengan alasan gak mampu. Puhlease deh ya, orang Indonesia itu gonti-ganti handphone, iphone, blackberry mahal bisa, tapi beli batik tulis yang bisa menghidupi pembatik dan keluarganya sekian bulan tiba-tiba merasa paling miskin sedunia.

Memang batik tulis itu mahal, malaikat juga tahu itu. Tapi tahu nggak sih berapa lama bikin batik tulis itu? Lama tahu, bisa 3 bulan baru selesai. Bagus mana sama batik cap? Ya batik tulis jauh lebih bagus dong.

Tidak perlulah memaksakan membeli yang baju jadi atau kain kan? Kalau memang tidak terjangkau dengan kantong, bisa membeli scarf atau dasi batik tulis aja dulu.

Kalau beli batik jangan dilihat cuma bagus atau dipake ke mana.

Jangan lihat fungsinya nggak kayak Blakcberry, Iphone, Ipod. Ada nilai filosofis dalam setiap motifnya, ada sejarah pembuatannya, ada sentuhan personalnya di tengah gempuran produk massal. Ada nilai sosial dan pelestarian budayanya.

Jangan disamakan dengan produk konveksi biasa. Beda kelas.

Yah saya cuma berharap ini bukan euphoria sesaat aja.