Showing posts with label opinion. Show all posts
Showing posts with label opinion. Show all posts

Sunday, December 5, 2010

PERSPEKTIF

Di Indonesia ini penduduknya lebih banyak yang Luar Negeri Minded..... Yah meski sekarang banyak produk dalam negeri yang diakui luar negeri sebagai produk bagus, tetap saja rasanya kalah bersaing dg image barang2 dari LN.... Tapi responsnya sih sudah mulai membaik ya...

Semalam nonton National Geographic Megacities... yang kok ndilalah ya ditayangkan dua televisi swasta dalam semalam hanya berbeda sejam jarak jam tayang... apakah ini promo terselubung dari pemda DKI? Entahlah, rasanya bisa jadi tapi bisa juga tidak....

Gw sih memilih utk sedikit berpikiran terbuka dan mencoba melihat dari perspektif NatGeo memandang keberhasilan yang sudah dicapai oleh Pemda DKI, di tengah berbagai kemelut yang melanda Jakarta... Agak penasaran juga soalnya melihat kok NatGeo bisa begitu perhatian dengan apa yang sudah dicapai Jakarta, yang rasanya buat gw sepertinya nggak mungkin ada prestasi selain soal Mal yang ternyata Taman Anggrek dan Grand Indonesia itu termasuk dalam 20 mal terbesar di dunia. Padahal kalau mengelilingi dua mal itu rasanya sih kecil2 saja dan sudah cukup terbiasa dengan luasnya hingga terasa agak membosankan.

Dan mengejutkannya ternyata rencana besar Pemda DKI lumayan realistis meski masih dalam tahap pelaksanaan dan belum terlihat hasilnya.

Yang baru terlihat hasilnya adalah Banjir Kanal Timur yang sukses membuat sekitar 2 juta penduduk di kawasan Timur tidak lagi takut kebanjiran di tengah malam. Juga reklamasi pantai untuk mencegah adanya banjir akibat air laut pasang. Serta pompa2 berjumlah ratusan yang akan memompa air ke laut. Serta revitalisasi situ2 atau daerah2 penampung air yang diharapkan dapat menyerap, menyimpan air saat curah hujan meningkat.

Trans Jakarta juga dinilai sebagai sebuah kesuksesan dan berhasil mengangkat isu gender dg adanya pengemudi wanita. Pembangunan infrastruktur jalan layang yang tidak memerlukan pelebaran jalan yang akan membutuhkan dana besar untuk pembebasan lahan. Bahkan teknik pembangunan jalannya yang diterapkan oleh kontraktornya pun dianggap sebagai sebuah terobosan dalam membangun jalan layang di area lahan yang terbatas.

Dan yang paling mencengangkan buat gw adalah ternyata Jakarta memiliki pembangkit listrik tenaga sampah. Ya dari hasil sampah2 organik yang dijadikan kompos, dihasilkan gas metana yang kemudian digunakan sebagai tenaga untuk pembangkit listrik. Memang masih kecil jumlah listrik yang dihasilkan masih 2 Megawatt. Tapi mesin itu ke depannya akan ditambah jumlahnya hingga sekitar 20an kalau gw tidak salah ingat. Gila ya? Dulu nonton di entah di NatGeo atau Discovery gitu negara mana punya pembangkit listrik tenaga sampah, trus gw membayangkan duh seandainya di Indonesia ada juga.... Eh kok ya tak diduga tak disangka ternyata punya.... Bangga deh jadinya kalau kita nggak kalah dengan mereka yang di luar...

Hebat juga ya ternyata Pemda DKI. Padahal kalau di twitter lebih sering dimaki-maki oleh penduduknya. Dan kejadian seperti ini ternyata berlaku untuk pemerintah di Merapi yang dianggap lamban, tapi justru oleh orang Eropa yang nekad mengunjungi Merapi saat meletus malah kagum atas kesigapan pemerintah dan TNI dalam menangani permasalahan pengungsi Merapi dengan segala kekurangannya.

Memang kalau sehari-hari berkutat dengan masalah yang sama kadang kita suka lupa melihat dari perspektif yang berbeda. Dan rasanya memang yang bisa membukakan mata dan perspektif kita hanya orang asing yang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasa kita lihat.

Wednesday, July 28, 2010

GRAHA MEWAH GUBUK MUNGIL, SEBUAH ANTITHESIS DALAM MEDIA







Begitu banyak media cetak bertema arsitektur, interior, dekorasi terbit saat ini. Baik yang lokal maupun yang lisensi internasional. Kondisi ini benar-benar memanjakan para pemerhati dan pecinta keindahan arsitektur, interior, dekorasi dan taman.

Dahulu hanya ada dua majalah, (GRIYA) ASRI dan LARAS, yang mengangkat masalah interior, arsitektur, dan kawan-kawan. Meski majalah wanita seperti Femina pasti mengangkat masalah dekorasi dalam setiap edisinya. Sementara majalah pria seperti Matra juga mengangkat masalah arsitektur. Setelah krisis moneter, herannya perkembangan arsitektur dan interior justru meningkat. Gaya modern simple yang lebih dikenal minimalis menjadi booming. Nama Imelda Akmal mulai dikenal dengan buku-buku interior yang mengangkat masalah interior yang lebih ekonomis. Setidaknya sebelum krismon nampaknya arsitektur dan interior dipandang sebagai sesuatu yang sangat luhung, mahal dan eksklusif. Sementara dengan kondisi krisis moneter, Imelda Akmal dengan buku-bukunya muncul di saat yang benar-benar tepat. Tak heran jika buku-bukunya mengalami cetak ulang berkali-kali.

Fenomena ini diikuti dengan terbitnya media interior dan dekorasi berbentuk tabloid yang jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan format majalah. Tabloid Rumah dan Bintang Home muncul pada momen dengan segmentasi yang tepat di awal dekade 2000. Tabloid Rumah lebih banyak mengupas rumah kalangan menengah dengan arsitektur dan desain interior yang lebih merakyat. Sementara tabloid Bintang Home mengangkat rumah milik selebrita sebagai tajuk utamanya.

Fenomena berlanjut dengar terbitnya majalah-majalah seperti Rumahku, IDEA, dan Tren. Sebagai counter-nya terbitlah majalah Skala+ yang mengangkat soal arsitektural dalam nuansa yang lebih eksklusif serta spesifik. Media yang memiliki spesifikasi khusus juga akhirnya terbit seperti Housing Estate, Indonesia Design, Apartemen, Audiovisual atau Property.

Pada akhir dekade 2000 Bazaar Living mulai diperkenalkan ke khalayak sebagai sisipan dari majalah Harper's Bazaar. Tetapi pada kelanjutannya penerbitnya lebih berkonsentrasi untuk Bravacasa, sebuah majalah dengan lisensi dari Italia serta Bazaar Wedding yang membahas segala sesuatu yang terkait dengan pesta pernikahan.

Lewat tangan dingin Dian M. Muljadi-lah, Bravacasa berhasil membawa interior dan dekorasi rumah ke tingkat inggil. Bravacasa seakan berhasil melangkah lebih maju dengan menetapkan standar yang lebih tinggi untuk media cetak interior dan dekorasi. Sejak saat itu muncullah media-media dengan konsep yang hampir serupa. Seperti Elle Decoration, Gatra Living dan High End Living. Hingga yang terakhir muncul adalah Martha Stewart Living.

Memang segala sesuatu selalu memiliki kontrasnya. Sederhana kontras dengan kemewahan. Semuanya akan mencapai titik keseimbangannya sendiri.

Meskipun media dengan segmentasi kelas menengah ke bawah, bukan berarti tak menampilkan karya-karya interior yang mewah. Seperti tabloid Bintang Home sempat memuat hunian bukan hanya dari selebrita lokal tapi juga Hollywood yang mengadaptasi artikel dari Architectural Digest. Sementara media dengan segmentasi kelas A-B, bukan berarti tak menyajikan gaya interior yang lebih personal. Seperti Elle Decoration yang menampilkan hunian milik perancang busana Matthew Williamson yang eksperimental.

Media dengan oplah terbesar seperti Kompas pun melakukan kontras dengan eksklusifitas dan memilih mengangkat hunian dengan sentuhan personal dari seniman terkemuka hingga orang kebanyakan yang memiliki hunian dengan nilai sentimentalnya sendiri. Meski kadang tak tampil semenarik dengan hunian mewah dalam media seperti Bravacasa atau Elle Decoration, hunian dalam rubrik, Aku dan Rumahku, di Kompas Minggu selalu memiliki kisah yang menarik untuk diikuti.

Memang menampilkan hunian dengan interior yang tertata sempurna dapat dipastikan akan tampil sungguh menarik. Hanya saja tanpa sentuhan personal seringkali sebuah hunian dalam tampilan dengan pencahayaan dan teknik fotografi yang terbaik dapat dipastikan terlihat begitu steril serta kehilangan jiwa dari penghuninya sekaligus terasa mengintimidasi. Tetapi hunian dengan sentuhan personal yang berlebihan juga terkadang terasa tak seimbang.

Jadi bagaimana menyeimbangkannya adalah sebuah tantangan tersendiri.

Sunday, July 25, 2010

GRAHA MEWAH GUBUK MUNGIL, SEBUAH ANTITHESIS



Beberapa kali terkait dengan pekerjaan saya harus berhubungan dengan pemilik rumah dengan beragam dimensi. Mulai dari yang ukurannya menurut saya sangat sempit sehingga terasa agak tidak manusiawi. Hingga yang sangat besar sampai-sampai rasa terasa mengintimidasi.

Saya sendiri saat menemui klien yang memiliki rumah dengan ukuran yang tidak besar dengan gaya yang sederhana, dapat merasakan kehangatan suasana rumah itu. Seringkali kehangatan suasana rumah itu dipengaruhi oleh kepribadian keluarga penghuni rumah. Adakalanya karena dimensi hunian yang terbatas sementara jumlah penghuninya tidak sebanding, maka suasana rumah itu berubah menjadi tidak menyenangkan pula untuk dihuni. Saya dapat merasakan aura stres dan ketegangan pada penghuni rumah yang merasa tidak nyaman akibat terbatasnya ruang gerak dan sirkulasi di dalam rumah. Rumah berdimensi luas terbatas dengan jumlah penghuni berlebih akan membuat rumah terasa tidak nyaman. Akibatnya penghuni rumah cenderung untuk pergi keluar rumah untuk mendapatkan kenyamanan. Akibatnya hubungan pun dapat menjadi renggang. Terbatasnya dimensi luas hunian juga berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Pengaruh hunian dengan dimensi luas terbatas menyebabkan minimnya privasi para penghuni. Akibat hal tersebut membuka peluang lebih besar terhadap terjadinya pelecahan seksual dari anggota keluarga atau incest. Sayangnya saya sudah tidak memiliki sumber bacaan itu lagi untuk saya tunjukkan sebagai referensi. Kalau tidak salah ingat sih dari sebuah media cetak sekitar satu dekade yang lalu. Saya jadi berpikir apakah RSS itu masih layak untuk ditawarkan kepada masyarakat menengah ke bawah. Karena seingat saya dalam sumber tersebut yang menjadi bahan penelitian justru masyarakat menengah ke bawah yang memiliki rumah yang tentunya berukuran di bawah standar sederhana.

Tapi bukan berarti tinggal di rumah yang mungil tak ada positifnya. Seringkali saya merasakan di rumah yang mungil memiliki suasana kehangatan karena interaksi antar penghuninya yang sangat dekat, erat, dan lekat.

Tetapi saat berkunjung ke rumah lain, yang berukuran jauh lebih besar, lebih mewah dari rumah dalam sinetron manapun yang pernah Anda tonton, saya merasakan suasana keterasingan. Saya merasa kecil berada di dalam rumah yang sangat besar dan megah itu. Mungkin karena saya bukan berasal dari keluarga kaya.
Tapi kesan seperti itu biasanya timbul saat saya berada di tempat ibadah, seperti di gereja atau saat saya melihat Masjid At'tien yang memancarkan keindahan konseptual yang luar biasa itu. Jadi terpikir oleh saya, apakah rumah kini telah menjadi tempat ibadah untuk memuja diri sendiri dalam trend narsisme? Segala kekayaan dipertunjukkan dengan perencanaan rumah yang sangat megah secara berlebihan meski hanya dihuni segelintir orang.

Seringkali yang ditemukan adalah rumah berukuran mega ternyata kehilangan suasana kehangatannya. Meskipun telah dirancang dengan dekorasi yang menimbulkan suasana hangat. Dimensi yang berlebihan dari sebuah rumah membuat hunian tersebut kehilangan korelasinya dengan kenyataan jumlah penghuni dengan ruang gerak dan sirkulasinya. Terutama jika jumlah penghuni yang minim dibandingkan dengan besarnya dimensi rumah. Apalagi ditunjang dengan fasilitas tv serta yang lainnya di masing-masing kamar yang membuat sebuah kamar justru menjadi sebuah hunian kecil.

Kalau saya sih mungkin akan memilih ukuran rumah yang sesuai dengan kebutuhan jumlah anggota keluarga. Itu sih baru teori. Mungkin kalau saya menjadi super kaya, jangan-jangan saya tergoda memiliki rumah superbesar dan supermewah.

Ya seperti ada ungkapan yang bilang a house is not a home. Bukan berarti sudah punya rumah Anda bisa merasakan nyamannya tinggal di rumah itu. Bisa mendapatkan perhentian setelah seharian bekerja di luar, bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya.

Dulu rasanya sewaktu masih kanak-kanak, saya masih sering mengalami menonton TV atau makan di meja makan bersama seluruh anggota keluarga. Sekarang di kota besar seperti Jakarta, rasanya hal-hal seperti itu sudah semakin eksklusif. Mungkin peningkatan kesejahteraan keluarga justru berbanding terbalik dengan keharmonisan dan kehangatan keluarga. Kalau sudah begini saya jadi ungkapan kalau kualitas lebih penting daripada kuantitas itu sebenarnya menyesatkan. Bagaimana kita menciptakan hubungan kekeluargaan dalam suasana yang berkualitas jika kuantitas pertemuan juga minim? Tanpa kuantitas tak akan tercipta interaksi yang intensif, tanpa intensitas tak ada ikatan yang rekat, tanpa kerekatan tak ada kehangatan. Tapi seringkali kita menghibur diri bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.

Jadi pilih yang mana?


picture courtesy of mauirealestate and ridgewoodfrontporch

Saturday, October 17, 2009

MEMILIH KURSI KERJA



Pernahkah Anda merasakan tubuh sakit setelah seharian duduk bekerja? Otot kaki tegang, punggung pegal, pinggang sakit, bokong terasa nyeri, bahu kaku, tangan nyeri? Kalau pernah, itu berarti saatnya Anda perlu memperhatikan kursi kerja yang dipakai dan sikap tubuh selama duduk bekerja.

Sering kita bepikir kursi kerja semakin besar ukurannya, semakin baik. Pemikiran yang keliru. Kursi kerja yang besar, gagah dan mewah memang menunjukkan kedudukan seseorang yang tinggi dalam suatu perusahaan. Tetapi kursi kerja eksekutif, yang umumnya dapat direbahkan ke belakang, seperti itu dirancang bukan untuk kegiatan bekerja seperti mengetik, menulis di depan komputer sepanjang hari. Kursi kerja eksekutif seperti itu dirancang bagi pimpinan perusahaan dimana pekerjaannya lebih banyak dilakuan dengan posisi tubuh lebih santai seperti menelepon, menandatangani surat, mengambil keputusan, berbincang-bincang. Kesalahan membeli kursi seperti ini menyulitkan tubuh kita.

Sediakan Waktu untuk Mencoba

Mendapatkan kursi kerja yang tepat memerlukan waktu yang cukup, karena kursi itu bersentuhan langsung dengan tubuh kita. Kita harus menemukan kursi kerja yang pas dengan ukuran tubuh kita. Sama seperti membeli busana. Kita harus benar-benar mencobanya dengan tubuh kita. Anda harus dapat merasakannya apakah kursi tersebut sesuai dengan tubuh Anda. Apakah seluruh tubuh merasa nyaman saat duduk di atasnya? Apakah kursi itu cukup leluasa untuk tubuh bergerak? Apakah sandaran punggung, lengan kursi, dudukan, serta tingginya dapat disesuaikan dengan ukuran tubuh?

Kaki Tangan Kursi

Kursi kerja yang baik membuat telapak kaki menjejak di lantai sehingga beban kaki dan tubuh menyebar. Bukan hanya bertumpu pada kedua paha, tetapi disalurkan melalui telapak kaki ke lantai. Karena itu periksa sistem gas hidrolik pada tiang kaki kursi. Apakah bekerja dengan baik dan dapat disesuaikan dengan ukuran tinggi kaki saat kita duduk. Jika tinggi tubuh Anda terlalu pendek atau kaki tidak dapat menjejak di lantai, gunakan bangku pendek untuk mengganjal kaki Anda. Tetapi perhatikan juga jangan sampai bagian bawah paha tidak menempel di atas dudukan kursi.

Cobalah duduk di kursi kerja, kemudian gerakan kursi tersebut. Kursi kerja harus dalam kondisi stabil dan aman baik saat diduduki maupun bergerak. Dulu kursi kerja dibuat dengan 4 jari roda pada satu kaki tiang. Ini menyebabkan kursi tidak stabil saat bergerak sehingga dapat jatuh terbalik. Itulah sebabnya saat ini kursi kerja dirancang dengan 5 jari roda pada satu kaki tiang. Cobalah periksa apakah kelima rodanya berputar dengan baik saat kursi bergerak. Satu roda bermasalah membuat pekerjaan terganggu.

Ada kursi kerja yang memiliki sandaran tangan, ada juga yang tidak. Memang ada baiknya memilih kursi yang memiliki sandaran tangan. Sandaran tangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, sama-sama dapat membuat bahu cepat menjadi lelah. Sandaran tangan yang baik mampu menopang tangan dengan pas. Untuk mencegah cedera bahu saat bekerja. Saat ini umumnya kursi kerja yang dijual memiliki tinggi sandaran tangan yang sesuai standar ergonomis dan tak dapat disesuaikan dengan ukuran lengan. Jika Anda merasa tinggi sandaran tangan yang ada kurang mampu menopang dengan baik, sebaiknya pilih kursi yang memiliki sandaran tangan yang dapat disesuaikan dengan ukuran tinggi lengan atas Anda.

Kursi Penopang Tubuh

Ukuran kedalaman kursi yang baik menyisakan sedikit jarak antara betis dengan bagian depan dudukan kursi. Sehingga mengurangi tekanan pada siku belakang lutut Anda. Serta membuat bagian bokong dan punggung bagian bawah Anda menyatu dengan dudukan dan sandaran kursi. Ini membuat beban tubuh Anda tersalurkan merata melalui seluruh tubuh Anda ke sandaran dan dudukan kursi.

Jika dudukan kursi terlalu dalam, maka posisi tubuh Anda akan menjadi melengkung disebabkan kaki bagian bawah terhalang oleh dudukan. Posisi duduk seperti ini akan membuat seuruh punggung anda akan lebih cepat merasa lelah. Hal ini disebabkan punggung bagian bawah Anda menggantung, tidak menyatu dengan sandaran kursi. Akibatnya punggung bagian atas harus menahan sebagian beban tubuh terutama punggung bagian bawah.

Cobalah rasakan ruang gerak tubuh Anda saat duduk di kursi kerja. Sebaiknya ada sedikit ruang gerak bagi tubuh diantara sandaran dan dudukan kursi. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pelumasan alami pada tulang belakang serta membantu proses sirkulasi darah, pernapasan serta pencernaan di dalam tubuh.

Coba rasakan apa ketebalan busa kursi kerja Anda cukup tebal untuk menopang tubuh dengan baik. Busa yang tipis tidak menjadi bantalan yang baik bagi tulang ekor. Rasanya akan seperti duduk di bangku kayu yang keras. Sehingga Anda lebih cepat gelisah yang justru mengganggu konsentrasi kerja. Busa yang tebal juga bukan berarti penopang dengan baik. Karena ada busa tebal tapi mudah kempis karena beban tubuh kita. Busa yang baik, lebih elastis mengikuti bentuk tubuh. Jadi bukan hanya ketebalan busa saja yang perlu diperhatikan. Tetapi keelastisannya juga.

Coba rasakan juga material penutup busa. Ada tiga macam yang umumnya ditawarkan, yaitu kulit asli, kulit sintetis dan kain. Bahan-bahan seperti kulit dan kulit sintetis biasanya tidak licin dan serta lebih mudah dibersihkan. Selain itu juga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan kain. Kelemahannya lebih cepat membuat tubuh menjadi panas. Karena panas tubuh diinsulasi oleh bahan tersebut. Sedangkan kain memang perawatannya lebih rumit, tetapi tidak menghasilkan listrik statis saat bersentuhan dengan tubuh kita. Kain lebih nyaman karena lamban dalam membuat tubuh menjadi panas. Pilih juga warna bahan yang sesuai dengan selera, gaya interior atau citra yang ingin Anda sampaikan.

Saat ini beberapa produsen mengeluarkan kursi kerja dengan dudukan serta sandaran punggung tanpa busa. Melainkan terbuat dari kain atau karet plastik seperti jaring yang sangat elastis. Secara ergonomis penggunaan bahan elastis seperti ini sangat baik bagi tubuh. Karena keelastisannnya mengikuti bentuk tubuh sekaligus menopangnya. Lubang-lubang pada bahan tersebut juga berfungsi mengalirkan udara ke punggung. Sehingga punggung tidak lekas terasa panas.

Jangan lupa periksa tombol-tombol pengatur penyesuaian kursi, mulai dari pengatur ketinggian dudukan dan sandaran lengan, serta kemiringan sandaran punggung.

Jika semua aspek tersebut sudah Anda perhatikan, mungkin Anda bisa menemukan kursi yang tepat untuk Anda. Kursi kerja yang terasa lembut, empuk, pas dengan tubuh Anda. Serta sesuai dengan selera. Kursi kerja yang dapat membuat tubuh Anda tetap merasa nyaman, santai, dan segar meski telah duduk berjam-jam.

Friday, October 9, 2009

6 WASIAT EISENMAN

oleh M. Ridwan Kamil

Di Torino yang dingin berangin, menyeruput secangkir cappucino menjadi hal kecil yang
luar biasa. Kelegitan kopi terbaik yang pernah saya minum hadir setiap pagi. Di kota
tempat kongres UIA bulan Juli lalu ini tidak ditemukan satupun café Starbucks. Mungkin
mereka minder dengan kualitas cappucino khas orang Italia. Apalagi jika yang menyeduh
adalah Nicoletta, gadis ramping nan cantik mirip Angelina Jolie yang melayani delegasi
Indonesia di restoran Vittorio. Perfecto.

Dari sekian banyak acara dan ceramah dari para arsitek dunia di kongres UIA ini, ada satu
kuliah dari Peter Eisenman yang terus mengiang-ngiang di telinga saya. Dengan usianya
yang sudah tua dan gayanya yang kebapakan, Eisenman mengemukakan sedikitnya 6
pesan tentang tentang arsitektur kontemporer.

  1. Eisenman mengingatkan bahwa kita sedang berada dalam krisis diskursus arsitektur. "Kita berada di dekade yang tidak menawarkan nilai baru," ujarnya. Yang ada hanya "lateness" atau kebaruan demi kebaruan geometri arsitektur yang berubah secara periodik tahunan, bulanan atau bahkan mingguan. Menurutnya tidak ada kegairahan perdebatan arsitektur dunia seperti halnya ketika arsitektur Modern bergeser ke Postmodern. Ataupun kegairahan ketika kerumitan dan kegeniusan diskursus dekonstruksi Derrida dipinjam oleh para arsitek dunia untuk menjadi wacana hangat di jamannya.
  2. Eisenman melihat banyaknya karya arsitektur kontemporer yang sibuk dengan geometri yang semakin rumit, namun seringkali tidak memiliki kualitas yang mampu menghadirkan makna mendalam. "Just a piece of meaningless form," kritiknya. Selain itu, banyak pula arsitektur yang tidak mampu memperkuat konteks kota dan budaya tempat ia berdiri. Karenanya Eisenman membenci Dubai. Baginya Dubai adalah sirkus arsitektur. Segala bentuk bisa hadir tanpa korelasi, tanpa preferensi dan tanpa didahului oleh esensi `livability' atau roh berkehidupan dari sebuah kota. Kota adalah untuk manusia. Dan Dubai tidak memilikinya.
  3. Eisenman merenungi bahwa karya arsitektur seharusnya bisa dirasakan sampai ke lerung hati terdalam. Arsitektur tidak hanya cukup menjadi sebuah entitas dan objek visual semata. Arsitektur terbaik adalah arsitektur yang mampu menyentuh psikologis manusia secara emosional. "let the heart be your judge," ungkapnya. Arsitektur harus mampu mengalirkan makna-makna di ruang-ruang tiga dimensional itu. Renungannya ini sejalan dengan konsep `tactility' yang didengungkan sosiolog Kenichi Sasaki yang memuji arsitektur yang menstimulasi seluruh indra manusia. Arsitektur yang tidak memanjakan indra visual semata.
  4. Eisenman mengingatkan kita, terutama para mahasiswa arsitektur, untuk tidak mendewakan komputer. Eisenman mengkhawatirkan generasi sekarang yang menggantungkan 100 persen proses desain dengan komputer. "Mereka menjual keindahan melalui manipulasi photoshop," debatnya. Dengan imaji-imaji yang secara visual spektakuler seolah urusan sudah selesai. Baginya proses desain harus dimulai dari kerja keras kontemplasi berpikir. Konsep desain harus mampu dirasakan dengan hati. Kemudian mengalir deras ke syaraf-syaraf di sepanjang jari-jari tangan. Karenanya sensitivitas indrawi masih ia anggap yang terbaik dalam melatih pencarian konsep berarsitektur.
  5. Eisenman berpesan bagi para arsitek di negara-negara berkembang untuk tetap optimis dan selalu merasa beruntung. Beruntung karena pada umumnya negara berkembang seperti kebanyakan negara di Asia masih memiliki referensi eksotisme budaya. Budaya yang masih memiliki tradisi kultural sebagai sumber konsep, legenda yang emosional sebagai sumber makna dan ritual referensional sebagai sumber cerita. Kekayaan-kekayaan kultural inilah yang tidak dimiliki di negara Barat seperti halnya Amerika Serikat tempatnya bermukim dan berpraktek.
  6. Eisenman menceritakan bahwa tiada yang lebih bermakna dalam profesi arsitek selain dari sebuah ketulusan pertemanan dan kesetiakawanan sesama arsitek. Ia kemudian bercerita tentang struktur vertikal di proyek Galia Cultural di Spanyol yang ia bangun sebagai perwujudan wasiat terakhir dari mendiang sahabatnya John Hedjuk. Mendiang koleganya yang sering menjadi teman minum kopi, sahabat berdiskusi dan kritikusnya selama mereka berpraktek di New York. Persahabatan adalah keindahan.


Itulah enam pesan dari arsitek yang mendedikasikan dirinya untuk terus mengajar dan
menularkan pemikiran-pemikiran kritis kepada ratusan muridnya dan ribuan
pengagumnya. Dunia arsitektur yang saat ini miskin provokasi memang membutuhkan
kehangatan pemikiran Eisenman. Sehangat dan semenyentak cappucino yang diseduh
Nicoletta, teman kita dari Torino. Kita memang butuh kehangatan yang menyentakkan
syaraf sekaligus menyegarkan pikiran. Setiap pagi.

Torino, Juli 2008.

Courtesy of: Ira Sophia

Thursday, October 8, 2009

GREEN LABEL

Kadang suka tersenyum sendiri kalau membaca membaca artikel tentang interior rumah tinggal publik figur dan mendapatkan stempel 'green' atau berwawasan lingkungan hanya karena menanam penghijauan di sekitar rumahnya.

Tepat tidak ya istilah berwawasan lingkungan. Mungkin lebih tepatnya berkonsep ramah lingkungan.

Sebenarnya kalau cuma meletakkan satu dua pohon di halaman rumah ditambah rumput sudah mendapatkan label ramah lingkungan mungkin halaman rumah tetangga depan rumah saya yang memiliki dari anggrek hutan sampai pohon Matoa semuanya asal Papua bisa mendapatkan Nobel kategori pemerhati lingkungan.

Yah setidaknya publik figure tersebut sudah ada kesadaran utk lebih memperhatikan lingkungan. Mudah-mudahan para penggemarnya jadi lebih terinspirasi untuk memperhatikan lingkungan. Jadi lebih banyak lagi yang memperhatikan lingkungan.

Yah kategori ramah lingkungan itu tidak cuma sekedar kosmetik, aksesoris label rumah. Rumah berwawasan lingkungan itu tergantung sejauh mana penghayatan dari penghuni rumahnya akan kesadaran lingkungan. Bukan hanya sekedar tanam sejuta pohon, seperti gerakan Pemda DKI.

Dari apa yang saya peroleh rumah berwawasan lingkungan itu kalau:
  1. Menggunakan furniture recycle
  2. Menggunakan material bangunan recycle
  3. Menggunakan material bangunan,material finishing yang telah mendapatkan sertifikasi ramah lingkungan
  4. Furniture kayu berasal dari pohon2 yang mudah regenerasinya
  5. Memaksimalkan penggunaan tenaga surya untuk menerangi rumah, dengan cara membuat lebih banyak bukaan spt jendela supaya lebih banyak sinar surya masuk ketimbang menggunakan lampu listrik.
  6. Memanfaatkan tenaga surya sebagai pembangkit listrik daripada menggunakan listrik PLN yang berasal dari pembangkit listrik besar yang menghasilkan karbondioksida lebih banyak.
  7. Memanfaatkan tenaga angin sebagai pembangkit listrik dengan alasan sama seperti di atas.
  8. Mendaur ulang sisa sampah rumah tangga.
  9. Mendaur ulang sisa limbah rumah tangga aka isi septic tank.
  10. Mendaur ulang sisa pembuangan air.
  11. Menggunakan peralatan elektronik hemat energi seperti TV LED ketimbang TV biasa dan plasma.
Nah itu baru 11 point yang saya peroleh. Bisa jadi ada lebih banyak kalau ingin ditambahkan.

Apa? Mahal?

Ya memang mahal. Untuk udara segar yang Anda peroleh dan hidup setiap hari seumur hidup Anda tidak dikenakan bayaran toh? Sinar surya menerangi setiap hari juga gratis kan? Nah di sinilah tugas kita semua mengembalikan apa yang kita sudah ambil dari bumi ini. Jangan lihat mahalnya. Toh semua itu digunakan untuk Anda sendiri juga.

Untuk bumi yang lebih hijau, bersih untuk anak cucu kita nanti. Hidup lebih hijau.

Thursday, July 30, 2009

STATIC OUT DYNAMIC IN, Dinamika dalam Desain, Gerakan yang Membuat sedikit Terengah-engah

Tentu saat ini semua pasti sudah pernah mendengar atau melihat dan membaca tentang gedung yang dinamis yang mampu berputar setiap lantainya di Dubai, yang menurut kabar akan dinamai The Dynamic Tower. Untuk yang belum pernah mendengar mungkin bisa dilihat di situs teman saya Bartian di sini.

Sejak jaman baheula, karya seni mulai dari patung hingga arsitektur pasti memiliki unsur dinamis meski materinya sendiri sebenarnya statis. Jadi meskipun patung/bangunan/lukisan itu statis alias berdiri diam, tetap saja terasa ada irama yang dinamis jika diamati lebih lanjut. Mungkin yang belum mengerti alias awam atau tidak terbiasa akan sulit dalam menyelami apa yang saya maxudkan.
Namun nampaknya saat ini pengertian dinamis dalam sebuah kestatisan/diam terasa mulai harus mengalami pemaknaan ulang yang lebih kontemporer.

Dinamis tidak cukup hanya secara intrinsik, tapi harus menjadi letterlijk, bergerak secara lahiriah, secara kasat mata telanjang. The Dynamic Tower ini contohnya. Tidak menarik lagi segala yang diam dan statis. Yang dinamis dan bergerak itulah yang akan menjadi kecenderungan baru. Ini baru dalam bidang arsitektur. Meskipun ide gedung yg berotasi bukanlah hal baru. Tapi The Dynamic Tower berhasil membawa dinamika arsitektur ke tataran baru.

Dan gejala kedinamisan yang baru ini sudah menyentuh dalam bidang interior.

Sebagai contoh bola lampu kaca yg dipasang di diskotik2 jaman klasik disko. Bola kaca itu berputar meski hanya di tempat tetapi berhasil membawa kedinamisan sorot cahaya lampu lainnya bergerak berputar mengelilingi ruangan. Membuat suasana di dalam ruang disko menjadi dinamis. Kemudian seiring dengan perkembangan teknologi, diciptakan lampu2 sorot yg dinamis utk keperluan dunia hiburan. Saat ini mungkin lampu yang berputar atau bergerak memang sudah sangat banyak digunakan untuk lingkungan domestik, meski masih terbatas pada penggunaan lampu meja dengan motif2 yang unik.

Tapi seiring dengan perkembangan lampu LED, penggunaannya tidak semata untuk penerangan hemat energi semata2. Tetapi juga dalam hal pembuatan dekorasi perpaduan antara seni dan teknologi. Diawali dengan munculnya LED wall hanging pictures. Meski umumnya hanya berupa gambar2 statis entah berupa pemandangan seperti air terjun tapi berkat teknologi LED gambar statis tersebut terkesan bergerak dengan dinamis. Gambar statis menjadi dinamis berkat permainan cahaya. Bahkan beberapa dilengkapi dengan efek suara sehingga terkesan benar2 hidup.

Setelah penemuan LED wall hanging pictures, saat ini telah menjamur Digital Photo Frame. Dari ukuran 7 inchi hingga belasan inchi. Dirancang untuk menyimpan data2 foto. Bisa diatur sehingga nampak seperti slide show dengan kecepatan yang dapat diatur.Sehingga foto2 yang Anda pajang tidak akan nampak membosankan karena terus berganti2. Sangat dinamis bukan?

Hmmm lama saya jadi berpikir kira2 apa yang akan terjadi dengan desain interior nantinya? Apakah nanti tampilan lemari pakaian kita bisa berganti2 motif urat kayu dan warna karena ada panel LED di bagian dinding dan pintu luarnya? Atau sofa yang berlapis kain bunglon sehingga bisa berubah2 warna tergantung cahaya yang menimpanya? Atau tatanan interior rumah yang bisa berubah2 seperti panggung pergelaran Grammy di Amerika sana? Atau suasana ruangan yang berubah-ubah tema berkat permainan proyektor ke dinding?

Menjadi statis memang cenderung membosankan, tapi nampaknya menjadi dinamis perlu stamina yang kuat untuk terus mengikuti perkembangan jaman.