Saturday, March 16, 2013

S A M P E L G R A T I S


Saat kita berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, melewati deretan toko termasuk toko kue dan roti, tentu kita sering menemukan situasi yang umum dimana salah satu pegawai dari toko kue dan roti menawarkan potongan-potongan kecil kue atau roti. Penawaran itu merupakan contoh rasa dari penganan yang  mereka jual untuk dapat kita nikmati. Meski ukurannya dapat dikatakan tak lebih besar dari ukuran ibu jari kita.

Saya kemudian  mencoba berpikir seberapa efektif cara menawarkan contoh penganan sebagai contoh rasa dari penganan yang mereka jual.

Coba kita akui saja, seberapa sering kita begitu menginginkan sampel kue tersebut tapi tak berlanjut dengan membelinya. Entah karena rasanya tidak sesuai yang kita bayangkan, atau mungkin ada sebab lain.

Saya mempunyai beberapa pengalaman. Seorang sahabat, Rose, memesan kue buatan saya untuk dikirimkan kepada teman-teman, keluarganya sebagai tanda kasih juga demi membantu mempromosikan apa yang saya jual. Tapi dari sekian banyak yang menerima pemberian Rose, apakah penjualan saya mengalami peningkatan yang berarti? Ternyata tidak.

Dari sekian banyak, hanya satu yang kemudian menjadi pelanggan tetap saya. Tapi kasus ini sungguh berbeda. Karena pelanggan ini justru berada di luar kota dan belum pernah menikmati kue buatan saya sama sekali. Apa yang menjadi andalannya adalah kue saya sungguh nikmat berdasarkan referensi dari Rose. Itulah yang membuat Elly kemudian menjadi pelanggan tetap saya dengan memesan kue untuk dikirimkannya kepada sanak keluarga dan sahabat-sahabatnya. Tetapi apakah dari mereka ada yang kemudian memesan kembali langsung kepada saya? Ternyata tidak.

Saya mencoba mengingat-ingat apakah gerai-gerai roti terkemuka pernah memberikan sampel gratis kepada calon-calon pembeli. Seingat saya tidak pernah. Entahlah mungkin saja saya salah.

Saya jadi berpikir dengan teori saya sendiri. Sampel gratis itu belum tentu membawa dampak yang berarti dalam meningkatkan penjualan. Sebabnya adalah kehilangan unsur misterius dan gairah dalam berusaha untuk memperoleh penganan tersebut.

Sebagai contoh jika kita berkunjung ke rumah teman atau saudara dan menemukan penganan yang enak tentu kita akan berusaha mencari tahu. Apakah penganan tersebut buatan dari nyonya rumah sendiri atau pesanan. Jika pesanan, kita tentu bertambah penasaran dimanakah memesannya, sehingga kita berusaha mencari tahu dari tuan rumah.
Hal itu dikarenakan sedikit sensasi dan kekuatiran tidak akan pernah menikmati penganan selezat itu lagi. Sehingga kita berusaha mencari tahu kalau-kalau kita dapat memesannya sendiri tanpa harus menunggu perhelatan yang diadakan tuan rumah.

Tapi jika kita dikirimkan penganan oleh sanak kerabat, dan kita mengetahui dari kemasannya dimana lokasi toko kue tersebut berada. Maka hilanglah sudah unsur misterius dimana lokasinya, bagaimana memperolehnya. Ini yang membuat kita cenderung untuk menganggap enteng. Dan berpikir, oh toko kue ini di sana. Jadi tak perlu lagi berusaha mencari tahu.

Itu adalah kasus sampel gratis yang tidak demikian kenyataannya karena diperoleh dengan membeli.

Pengalaman saya, membagikan sampel gratis tidak menjadikan peningkatan penjualan. Yang diberikan sampel juga ternyata tidak kunjung memesan pada saya.

Jadi saya mohon maaf tidak memberikan sampel gratis untuk kue-kue yang saya buat. Kecuali untuk mereka yang telah menjadi pelanggan tetap saya.

No comments:

Post a Comment