Showing posts with label indonesian home. Show all posts
Showing posts with label indonesian home. Show all posts

Sunday, April 15, 2012

INDONESIAN HERITAGE: NEW VERSION OF TRADITIONAL MINANGKABAU HOME, RUMAH GADANG


Istana Pagaruyung
Rumah gadang (Minangkabau: "big house") or rumah bagonjong (Minangkabau: "spired roof house") are the traditional homes (Indonesian: "rumah adat") of the Minangkabau. The architecture, construction, internal and external decoration, and the functions of the house reflect the culture and values of the Minangkabau. A rumah gadang serves as a residence, a hall for family meetings, and for ceremonial activities. With the Minangkabau society being matrilineal, the rumah gadang is owned by the women of the family who live there - ownership is passed from mother to daughter.
The houses have dramatic curved roof structure with multi-tiered, upswept gables. Shuttered windows are built into walls incised with profuse painted floral carvings. The term rumah gadang usually refers to the larger communal homes, however, smaller single residences share many of its architectural elements.

There is another Indonesian traditional home of the Toraja in Sulawesi called Tongkonan that has similarity roof design.

Tongkonan 
Tongkonan is the traditional ancestral house, or rumah adat of the Torajan people, in Sulawesi, Indonesia. Tongkonan have a distinguishing boat-shaped and oversized saddle back roof. Like most of Indonesia’s Austronesian-based traditional architecture tongkonan are built on piles. The construction of tongkonan is laborious work and it is usually built with the help of all family members. In the original Toraja society, only nobles had the right to build tongkonan. Commoners live in smaller and less decorated homes called banua.


Linda Garland, an Irish-born interior and landscape designer and environmentalist who has lived on Bali for 35 years, had long been fascinated by the Minangkabau buildings of western Sumatra and proposed to Rob Cohen, director of action-adventure movies (The Fast and the Furious, Dragonheart),  that they revive the architecture on his seven acres. The residence would consist of three traditional Minang rumah gadang (big houses), with dramatically curved thatch roofs and multitiered upswept gables, and one lumbung (a rice house) to serve as one of the guest pavilions. Garland consulted with scholars of Minangkabau architecture and conducted a monthlong survey of the Minangkabau region of Sumatra to arrive at the selection of buildings.


Linda Garland created this oceanfront retreat for film director Rob Cohen of The Fast and the Furious fame. Dominating the Pantai Jasi coast, and set amid a coconut plantation right at the water’s edge, the property is modeled on the royal residences of the Minang people of Sumatra, and built entirely from recycled timber.





Saturday, January 15, 2011

INDONESIAN HERITAGE: DOORS OF INDONESIA

Every ethnic in Indonesia has its own traditional house style. Each and every one is different. Doors that attach to each every house has their own philosophy.

Door is a connection to out environment and interior. Philosophically door has meaning refers to positivity, enthusiasm and a way achieve our goal.


Yogyakarta
The common patterns like floral, plants, leaves have meaning of the fertile Java land. It is also tells about how human connected and depended to sun and earth. The floral on the upside and downside of door is reflection of value that human life has to be balance with nature to bring peaceful.


Sunda
Their door has floral and animal patterns on the upside. Floral like Lotus is a reflection of Sundanese sense of beauty. Animal motifs like senuk or small elephant symbolized of power. Meanwhile the sarisig or layer, has function as wind hole.


Riau
The doors dominated by golden floral patterns which symbolize of happiness and prosperity. Riau people believe that the more patterns engraved on a door of a house, the higher social status of the owner. Besides floral patterns, there are also plants and animal which mean life and peace.


Palembang
Doors to Palembang people is reflection of cultural, religion and social values. The common floral pattern applied is ‘kembang tanjung’ which means welcome. The red and yellow color that dominates the design are reflection of courage and prosperity.


Minangkabau
As part of Minangkabau traditional house called Rumah Gadang, the door colorfull motifs and patterns is a reflection of their appreciation to local values. The floral patterns symbolize the prosperity, life, development, useful and continuity.


Mandailing
People of Batak Mandailing absorb the universe as their inspiration for motifs and patterns on their door. Like ‘si matani ari’ or sun and ‘desa ni ualu’ means eight points of the compass. Each and every motifs reflected their beliefs and religion. The door craving is pretty simple.


Madura
Floral patterns are common applied as ornaments on the upside of the door which engraved beautifully. Meanwhile the door leaf itself has simple design which also ornamented with floral motif as reflection of the nature beauty and social status, royalty.


Jepara
The motifs and patterns is a reflection of Javanese values of happiness and balancing of life. It is also symbolized of family values, art and Javanese culture.


Betawi
The design is very simple. The silhouette of mosque’s dome is common applied on the door, as a symbol of religiousity of Betawi people. Other motifs and patterns applied are influenced by Chinese people who came to Batavia centuries ago.


Banjar
The most common motifs applied on Banjar doors are flowers, fruits and leaves which symbolized the land fertility and peace. As always gold color used to symbolized of prosperity.


Bali
In Bali door used to be called as kori which mean entrance door. The animal and floral patterns carved on door has reflection of balancing of life, the relation between human and God also the environment. Bali door is known for their vibrant color combined with gold.


Aceh
The motif and patterns inspired by plant and flower named as ‘bungong meulu’, ‘bungong jeumpa’, and ‘bungong mata uroe’ engraved on door wood. Arab calligraphy is also common carved onto door. The color usually matched with the house design. Gold is common for highlighting the motifs.

Sunday, July 25, 2010

GRAHA MEWAH GUBUK MUNGIL, SEBUAH ANTITHESIS



Beberapa kali terkait dengan pekerjaan saya harus berhubungan dengan pemilik rumah dengan beragam dimensi. Mulai dari yang ukurannya menurut saya sangat sempit sehingga terasa agak tidak manusiawi. Hingga yang sangat besar sampai-sampai rasa terasa mengintimidasi.

Saya sendiri saat menemui klien yang memiliki rumah dengan ukuran yang tidak besar dengan gaya yang sederhana, dapat merasakan kehangatan suasana rumah itu. Seringkali kehangatan suasana rumah itu dipengaruhi oleh kepribadian keluarga penghuni rumah. Adakalanya karena dimensi hunian yang terbatas sementara jumlah penghuninya tidak sebanding, maka suasana rumah itu berubah menjadi tidak menyenangkan pula untuk dihuni. Saya dapat merasakan aura stres dan ketegangan pada penghuni rumah yang merasa tidak nyaman akibat terbatasnya ruang gerak dan sirkulasi di dalam rumah. Rumah berdimensi luas terbatas dengan jumlah penghuni berlebih akan membuat rumah terasa tidak nyaman. Akibatnya penghuni rumah cenderung untuk pergi keluar rumah untuk mendapatkan kenyamanan. Akibatnya hubungan pun dapat menjadi renggang. Terbatasnya dimensi luas hunian juga berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Pengaruh hunian dengan dimensi luas terbatas menyebabkan minimnya privasi para penghuni. Akibat hal tersebut membuka peluang lebih besar terhadap terjadinya pelecahan seksual dari anggota keluarga atau incest. Sayangnya saya sudah tidak memiliki sumber bacaan itu lagi untuk saya tunjukkan sebagai referensi. Kalau tidak salah ingat sih dari sebuah media cetak sekitar satu dekade yang lalu. Saya jadi berpikir apakah RSS itu masih layak untuk ditawarkan kepada masyarakat menengah ke bawah. Karena seingat saya dalam sumber tersebut yang menjadi bahan penelitian justru masyarakat menengah ke bawah yang memiliki rumah yang tentunya berukuran di bawah standar sederhana.

Tapi bukan berarti tinggal di rumah yang mungil tak ada positifnya. Seringkali saya merasakan di rumah yang mungil memiliki suasana kehangatan karena interaksi antar penghuninya yang sangat dekat, erat, dan lekat.

Tetapi saat berkunjung ke rumah lain, yang berukuran jauh lebih besar, lebih mewah dari rumah dalam sinetron manapun yang pernah Anda tonton, saya merasakan suasana keterasingan. Saya merasa kecil berada di dalam rumah yang sangat besar dan megah itu. Mungkin karena saya bukan berasal dari keluarga kaya.
Tapi kesan seperti itu biasanya timbul saat saya berada di tempat ibadah, seperti di gereja atau saat saya melihat Masjid At'tien yang memancarkan keindahan konseptual yang luar biasa itu. Jadi terpikir oleh saya, apakah rumah kini telah menjadi tempat ibadah untuk memuja diri sendiri dalam trend narsisme? Segala kekayaan dipertunjukkan dengan perencanaan rumah yang sangat megah secara berlebihan meski hanya dihuni segelintir orang.

Seringkali yang ditemukan adalah rumah berukuran mega ternyata kehilangan suasana kehangatannya. Meskipun telah dirancang dengan dekorasi yang menimbulkan suasana hangat. Dimensi yang berlebihan dari sebuah rumah membuat hunian tersebut kehilangan korelasinya dengan kenyataan jumlah penghuni dengan ruang gerak dan sirkulasinya. Terutama jika jumlah penghuni yang minim dibandingkan dengan besarnya dimensi rumah. Apalagi ditunjang dengan fasilitas tv serta yang lainnya di masing-masing kamar yang membuat sebuah kamar justru menjadi sebuah hunian kecil.

Kalau saya sih mungkin akan memilih ukuran rumah yang sesuai dengan kebutuhan jumlah anggota keluarga. Itu sih baru teori. Mungkin kalau saya menjadi super kaya, jangan-jangan saya tergoda memiliki rumah superbesar dan supermewah.

Ya seperti ada ungkapan yang bilang a house is not a home. Bukan berarti sudah punya rumah Anda bisa merasakan nyamannya tinggal di rumah itu. Bisa mendapatkan perhentian setelah seharian bekerja di luar, bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya.

Dulu rasanya sewaktu masih kanak-kanak, saya masih sering mengalami menonton TV atau makan di meja makan bersama seluruh anggota keluarga. Sekarang di kota besar seperti Jakarta, rasanya hal-hal seperti itu sudah semakin eksklusif. Mungkin peningkatan kesejahteraan keluarga justru berbanding terbalik dengan keharmonisan dan kehangatan keluarga. Kalau sudah begini saya jadi ungkapan kalau kualitas lebih penting daripada kuantitas itu sebenarnya menyesatkan. Bagaimana kita menciptakan hubungan kekeluargaan dalam suasana yang berkualitas jika kuantitas pertemuan juga minim? Tanpa kuantitas tak akan tercipta interaksi yang intensif, tanpa intensitas tak ada ikatan yang rekat, tanpa kerekatan tak ada kehangatan. Tapi seringkali kita menghibur diri bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.

Jadi pilih yang mana?


picture courtesy of mauirealestate and ridgewoodfrontporch