Showing posts with label imelda akmal. Show all posts
Showing posts with label imelda akmal. Show all posts

Sunday, January 23, 2011

IMELDA AKMAL ARCHITECTURAL WRITER AWARD, BOOK LAUNCHING, EXHIBITION & TALKSHOW


Time: 11 February · 14:00 - 18:00
Location:  Citiwalk, Jakarta
Created by: Imelda Akmal Architectural Writer.

  1. Awarding Ceremonial of  3 Design Competition Home Idea Series: Healthy Economical Home, Green Small Home, Tropical Energy Saving Home.
  2. Exhibition of the winners' and nominees' design presentations.
  3. A panel of jury commentary. 
  4. Architectural and Design Seminar.
  5. Launching of the latest 3 books, Home Idea Series, from Imelda Akmal Architectural Writer.
  6. IAAW book corner. Special books of IAAW discount during the event. 
Imelda Akmal is one of well known architectural, interior design writers in Indonesia. Imelda started her writing career in 1993, after earning a diploma in architecture from Trisakti University in Jakarta. Instead of applying for a position at an architect firm, she joined the staff of Femina, a local women’s magazine, as a columnist.

In 1996, Imelda quit her job as a columnist and started writing her own books. Together with her spouse and co-worker, photographer Sonny Sanjaya, Imelda published her first book, titled Menata Rumah Mungil (Decorating Small Homes).  The book was a big hit and has been reprinted 13 times over the last 10 years. It also gives Imelda Akmal a trademark — the small homes designer.Imelda Akmal loves to write about architecture itself — referring to herself as an architecture writer — and has published more than 70 architecture and interior books. 50 Indonesian Architect + Emergings is Imelda’s third book that looks into the development of Indonesian architecture. Her two previous books, Indonesian Architecture Now and Indonesian Architecture Now (II) published in 2005 and 2008 respectively, highlighted the latest contemporary works by Indonesian architects and aimed to give international exposure to local architects.

Imelda moved to Australia to pursue a Master’s degree in business management and work as a freelance interior designer. From there she moved to Singapore. After living in foreign countries for quite long time, Imelda realized something that led her to writing her book about the development of Indonesian architecture.
“Indonesia is a vast country, but no one works to promote our architecture to the international world. So people knew nothing about contemporary Indonesian architecture development.”

Imelda therefore began to develop a concept about her first architectural writing endeavor, Indonesian Architecture Now. In this book, she presented the works of 20 local architects. Aimed at reaching international readers, the book was published in dual language, Indonesian and English. It took five years for Imelda to finish. It eventually became a major success. “Indonesian Architecture Now became a bestseller and was a recommended title for a month at bookstores in Singapore,” Imelda said. “It was a breakthrough. Local architects were most happy because finally their works got international recognition.”

Although Imelda wrote all of her books herself, she has formed a team that helps her write architectural and interior books. Established in 2002, Studio IAAW (Imelda Akmal Architectural Writers) consists of nine female writers who studied architecture. “I don’t know why my staff is all women. Maybe women are more interested in writing than men,” Imelda laughed. “But I require my staff to have an education in architecture because architectural writers need to be capable of appraising and criticizing designs.” The studio is currently handling a number of projects, including monthly interior design books and a series of architectural books. “For architecture books, we are working on a sequel to 50 Indonesian Architects + Emergings.”

Wednesday, July 28, 2010

GRAHA MEWAH GUBUK MUNGIL, SEBUAH ANTITHESIS DALAM MEDIA







Begitu banyak media cetak bertema arsitektur, interior, dekorasi terbit saat ini. Baik yang lokal maupun yang lisensi internasional. Kondisi ini benar-benar memanjakan para pemerhati dan pecinta keindahan arsitektur, interior, dekorasi dan taman.

Dahulu hanya ada dua majalah, (GRIYA) ASRI dan LARAS, yang mengangkat masalah interior, arsitektur, dan kawan-kawan. Meski majalah wanita seperti Femina pasti mengangkat masalah dekorasi dalam setiap edisinya. Sementara majalah pria seperti Matra juga mengangkat masalah arsitektur. Setelah krisis moneter, herannya perkembangan arsitektur dan interior justru meningkat. Gaya modern simple yang lebih dikenal minimalis menjadi booming. Nama Imelda Akmal mulai dikenal dengan buku-buku interior yang mengangkat masalah interior yang lebih ekonomis. Setidaknya sebelum krismon nampaknya arsitektur dan interior dipandang sebagai sesuatu yang sangat luhung, mahal dan eksklusif. Sementara dengan kondisi krisis moneter, Imelda Akmal dengan buku-bukunya muncul di saat yang benar-benar tepat. Tak heran jika buku-bukunya mengalami cetak ulang berkali-kali.

Fenomena ini diikuti dengan terbitnya media interior dan dekorasi berbentuk tabloid yang jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan format majalah. Tabloid Rumah dan Bintang Home muncul pada momen dengan segmentasi yang tepat di awal dekade 2000. Tabloid Rumah lebih banyak mengupas rumah kalangan menengah dengan arsitektur dan desain interior yang lebih merakyat. Sementara tabloid Bintang Home mengangkat rumah milik selebrita sebagai tajuk utamanya.

Fenomena berlanjut dengar terbitnya majalah-majalah seperti Rumahku, IDEA, dan Tren. Sebagai counter-nya terbitlah majalah Skala+ yang mengangkat soal arsitektural dalam nuansa yang lebih eksklusif serta spesifik. Media yang memiliki spesifikasi khusus juga akhirnya terbit seperti Housing Estate, Indonesia Design, Apartemen, Audiovisual atau Property.

Pada akhir dekade 2000 Bazaar Living mulai diperkenalkan ke khalayak sebagai sisipan dari majalah Harper's Bazaar. Tetapi pada kelanjutannya penerbitnya lebih berkonsentrasi untuk Bravacasa, sebuah majalah dengan lisensi dari Italia serta Bazaar Wedding yang membahas segala sesuatu yang terkait dengan pesta pernikahan.

Lewat tangan dingin Dian M. Muljadi-lah, Bravacasa berhasil membawa interior dan dekorasi rumah ke tingkat inggil. Bravacasa seakan berhasil melangkah lebih maju dengan menetapkan standar yang lebih tinggi untuk media cetak interior dan dekorasi. Sejak saat itu muncullah media-media dengan konsep yang hampir serupa. Seperti Elle Decoration, Gatra Living dan High End Living. Hingga yang terakhir muncul adalah Martha Stewart Living.

Memang segala sesuatu selalu memiliki kontrasnya. Sederhana kontras dengan kemewahan. Semuanya akan mencapai titik keseimbangannya sendiri.

Meskipun media dengan segmentasi kelas menengah ke bawah, bukan berarti tak menampilkan karya-karya interior yang mewah. Seperti tabloid Bintang Home sempat memuat hunian bukan hanya dari selebrita lokal tapi juga Hollywood yang mengadaptasi artikel dari Architectural Digest. Sementara media dengan segmentasi kelas A-B, bukan berarti tak menyajikan gaya interior yang lebih personal. Seperti Elle Decoration yang menampilkan hunian milik perancang busana Matthew Williamson yang eksperimental.

Media dengan oplah terbesar seperti Kompas pun melakukan kontras dengan eksklusifitas dan memilih mengangkat hunian dengan sentuhan personal dari seniman terkemuka hingga orang kebanyakan yang memiliki hunian dengan nilai sentimentalnya sendiri. Meski kadang tak tampil semenarik dengan hunian mewah dalam media seperti Bravacasa atau Elle Decoration, hunian dalam rubrik, Aku dan Rumahku, di Kompas Minggu selalu memiliki kisah yang menarik untuk diikuti.

Memang menampilkan hunian dengan interior yang tertata sempurna dapat dipastikan akan tampil sungguh menarik. Hanya saja tanpa sentuhan personal seringkali sebuah hunian dalam tampilan dengan pencahayaan dan teknik fotografi yang terbaik dapat dipastikan terlihat begitu steril serta kehilangan jiwa dari penghuninya sekaligus terasa mengintimidasi. Tetapi hunian dengan sentuhan personal yang berlebihan juga terkadang terasa tak seimbang.

Jadi bagaimana menyeimbangkannya adalah sebuah tantangan tersendiri.