Saturday, August 25, 2012

S U P R I H

Cerpen saya ini pernah dimuat di majalah Femina November 2006.


Setengah jam berlalu sejak azan maghrib. Di dalam salah satu pondokan di Ledok Ratmakan, Mbok Sanem sedang melahap makan malamnya. Di ruangan seluas dua kali empat meter persegi itu Mbok Sanem tinggal bersama Mbah Menir, ibunya dan Suprih, anaknya, serta tiga teman sekampung. Sesama perempuan buruh gendong di Pasar Beringharjo. Mbah Menir sedang memijat Suprih yang kelelahan setelah seharian menggendong barang jualan seberat 80 kg naik turun tiga lantai. Sementara yang lain sedang tidur-tiduran di atas papan berlapis tikar.
Ini hari pertama Suprih bekerja sebagai buruh gendong. Sejak kecil Suprih sudah dibawa Mbok Sanem ke pasar. Mbok Sanem mengempitnya, mengeloninya. Mbok Sanem juga yang memberikan tenggok dan selendang serta mengajarinya bekerja. Menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo adalah pekerjaan turun temurun. Bagi buruh gendong seperti mereka, kehidupan adalah apa yang dijalani setiap hari. Harapan hanya setinggi bisa makan tiga kali setiap hari, bisa bayar uang WC dan pondokan. Tak peduli beban gendongan 80 kg telah membuat tulang belakang ngilu. Beban gendongan yang harus dipikul naik turun tiga lantai dari pasar ke tempat parkir adalah metafora kenyataan betapa berat hidup buruh gendong perempuan.
 Wong bisanya cuma nggendong thok, ya seberat apapun harus dijalani, Nduk. “ ujar Mbok Sanem menyemangati Suprih.
 Nggendong itu nggak perlu ijazah. Dapat uangnya biar sedikit tapi cepat dan halal. Yang penting badan sehat, kuat, dan nggak malu. “
Masa depan bagi seorang Suprih hanyalah menjadi buruh gendong. Mbah Menir yang sudah berumur sekitar 65-an pun masih terus bekerja. Sebagian besar hasil menggendong habis untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Mbok Sanem kadang bisa menyimpan sedikit uang lebih. Tetapi itupun jarang sekali diperolehnya. Hanya saja Mbok Sanem punya keyakinan sendiri. “ Setiap orang punya rezekinya sendiri-sendiri,“ kata Mbok Sanem kepada Suprih. Dulu Mbok Sanem pernah mencoba berdagang tapi malah terlilit hutang. “ Jadi buruh nggendong biar dapat sedikit tapi rasanya lebih tenteram di hati. Nggak usah ngoyo. Mungkin nasib kita memang cuma sampai di sini. “
* * *
Suatu siang Suprih yang sedang menggendong sekarung bawang, berpapasan dengan Lasmi. Lasmi teman sepermainannya dulu di kampung Wates, daerah Kulon Progo. Lasmi sedang pulang kampung setelah beberapa tahun bekerja di Jakarta. Ia menyempatkan berbelanja di Pasar Beringharjo untuk melepas kangen suasana pasar. Sifat Lasmi tetap tidak berubah, tetap ramah dan hangat seperti dulu. Ia yang menyapa Suprih dulu.
 Suprih!!,” teriak Lasmi melihat Suprih yang sedang menurunkan sekarung bawang dari gendongannya. Suprih pangling melihat cara dandan dan berpakaian Lasmi yang tampak lebih mewah di matanya. Lasmi memakai kaos dan celana jeans, sementara dirinya hanya mengenakan kain batik dan kebaya tua lungsuran Mbok Sanem.
 Kasihan kamu, Prih. Berat sekali gendonganmu. Apa Simbok dan Simbah masih nggendong juga?, “ tanya Lasmi.
 Ya Las, sudah turunan. Apalagi yang bisa dikerjakan selain nggendong. Nggak butuh ijazah tinggi. Yang penting sehat, kuat dan nggak malu. Yaa biar duitnya sedikit yang penting halal dan cepat dapatnya, “ jawab Suprih mengulang kata-kata Mbok Sanem.
 Kamu kok betah toh di sini? Duitnya kan nggak seberapa. Cepat habis lagi buat hidup sehari-hari. Apa kamu ndak kasihan sama Simbok dan Simbah yang masih mesti nggendong puluhan kilo di umur setua itu? Kamu ndak mau ikut aku ke Jakarta? Uangnya lebih banyak lho. Gampang lagi dapatnya. Seminggu kamu bisa mendapat ratusan ribu. Bisa kamu simpan dan kasih ke Simbok dan Simbah. Di sini paling kamu dapat berapa sih? Bukan mau ngenyek, tapi kamu tahu sendiri kerja seperti ini kan kamu ndak bisa pasang tarif seperti yang kamu mau. Di Jakarta bisa. Di sini dapat uang lebih itu kalau ada langganan yang bermurah hati saja. Di Jakarta asal kamu kasih
servis lebih, tipnya besar lho. “
Perkataan Lasmi jelas menggoda Suprih untuk mengambil keputusan pergi ke Jakarta. Suprih benar-benar terlena dengan penjelasan Lasmi. Suprih juga ingin membantu Simbok dan Simbah. Suprih tidak ingin uang banyak. Uang banyak belum tentu tenteram. Tapi Suprih juga ingin kaos dan celana jeans. Suprih ingin melihat Jakarta dan membuktikan di sana ia dapat dengan mudah mendapatkan uang banyak supaya Simbok dan Simbah bisa hidup tenang di kampung.
 Memang kamu kerja apa di Jakarta, Las?, “ tanya Suprih dengan polosnya.
 Eh, ehmm… jadi pelayan Prih. Enak kerjanya di tempat kayak restoran begitu. “
 Oohhhh… “
* * *
 Kamu yakin mau ke Jakarta, Nduk? “ tanya Mbok Sanem.
 Iya Mbok. Aku mau cari kerjaan yang lebih baik supaya SiMbok dan SiMbah nggak usah nggendong lagi. Bisa hidup lebih tenang di kampung, “
 Tapi Simbah dan Simbok sudah nrimo kok hidup seperti ini. Kamu ndak usah repot mikiran Simbok dan Simbah. Kalau hari ini cuma bisa makan nasi pakai daging syukur. Tapi kalau besok harus makan nasi sama tempe tok ya tetap bersyukur masih bisa makan. Kalau pun Simbok atau Simbah sakit masih ada Yu Yatin, Mbah Besur dan Yu Rubiyem yang mau mijetin dan membagi makanan, “ tambah Mbah Menir.
 Tapi kalau kamu sudah niat ya nggak apa-apa. Simbok dan Simbah rela kok. Yang penting kamu bisa jaga diri. Ingat lho Nduk. Hati-hati di Jakarta banyak orang jahat. Ini ada sedikit uang buat ongkos berangkat ke Jakarta. Kalau kurang kamu bisa jual kain batik lama punya Simbah. Lumayan kalau dijual bisa buat nambah ongkos.“
 Terima kasih, Mbok. Terima kasih ya, Mbah, “ jawab Suprih sambil meremas tangan Mbah Menir dengan erat.
* * *
Sebenarnya ada sedikit keraguan terbersit di hati Suprih untuk berangkat ke Jakarta. Restu Simbok dan Simbah justru mengurangi semangatnya. Ada perasaan tidak enak mengganjal di hatiya. Tetapi Suprih sudah mengambil keputusan dan sekarang sudah sampai di Jakarta bersama dengan Lasmi. Lasmi akan membawanya ke pondokan tempat Lasmi tinggal dan mengenalkannya kepada Mami pemilik pondokan itu.
 Prih, ini Mami yang akan menampung kamu kerja di sini. Mam, ini Suprih yang saya ceritakan itu, “ kata Lasmi menjelaskan kepada Mami.
 Wah cantik seperti putri Solo. Eh, tapi kamu bukan putri Solo ya tapi putri Yogya. Ya sudah Las, nanti malam kamu pinjamin dulu baju kamu. Sekarang si Suprih dipotong dulu saja rambutnya. Bikin model shaggy biar cantik seperti Alya Rohali. Sana ajak Suprih ke salonnya Andri. Oh ya minta Andri melulur Suprih sekalian biar wangi. Nanti malam ada tamu penting datang. Kamu juga kalau mau lulur boleh Las. Biar Mami yang bayar nanti. Suprih nanti malam kamu mulai kerja ya?! Biar bisa cepat kirim uang untuk Simbok dan Simbah kamu di Yogya. “
 Ya Bu, “ jawab Suprih sambil tersenyum. Suprih senang. Seumur-umur ia belum pernah masuk salon.
Sementara dilulur, Suprih merasa bersalah. Suprih teringat Mbah Menir yang suka memijat dirinya kalau ia tampak lelah. Suprih jarang memijat Mbah Menir yang justru lebih sering minta dipijat sama Mbah Besur. Sementara rambut Suprih dipotong, teringat ia saat Mbok Sanem mengurus rambutnya yang panjang mencapai pinggang. Biasanya Mbok Sanem yang mengoles rambutnya dengan kemiri atau santan. Rambutnya jarang dipotong. Cukup digelung saja. Ada rasa sedih karena kangen akan suasana di pondokan. Padahal ia belum lagi sehari menjejakkan kaki di Jakarta.
Tetapi bayangan penampilan baru Suprih yang tampak di cermin segera menghapus kesedihan itu diganti dengan seulas senyum di wajahnya. Terhapus sudah rasa kangen itu dengan rasa kagum akan kecantikan dirinya sendiri. Suprih tidak menyangka ia bisa secantik ini hanya dengan model potongan rambut yang baru. Padahal ia masih mengenakan blus dan rok tua yang diberikan anak perempuan pedagang besar tempat ia bekerja.
 Wah, kamu jadi tampak cantik sekali Prih! “ ujar Lasmi berseri-seri melihat hasil temuannya. Sudah terbayang di benak Lasmi bonus besar dari Mami karena berhasil membawa primadona baru dari kampung yang akan menambah pemasukan Mami. Suprih hanya tersenyum malu-malu. “ Mami pasti senang melihat penampilan kamu yang baru. Ayo kita pulang dan pilih baju yang akan kamu pakai nanti malam. Andri, terima kasih ya. Ongkosnya nanti minta sama Mami saja. “
 Oke deh kakak. Nanti akika minta sama Mami,” jawab Andri manja.
* * *
 Kamu pakai yang ini saja, Prih! “ kata Lasmi sambil menyodorkan sebuah gaun terusan hitam tanpa lengan. “ Sepatunya pakai yang hitam saja. Biar serasi.”
Suprih melepas kemeja dan roknya. Menggantinya dengan gaun hitam itu. Ada perasaan aneh terbersit di hatinya. Gaun ini sangat terbuka sampai bahu, punggung, lengan dan sebagian belahan dadanya terlihat. Ada rasa risih dan malu mengenakan gaun hitam itu. Dalam hati Suprih bertanya restoran seperti apakah yang pakaian pelayannya seperti ini?
 Sekarang kamu ke sini biar aku dandanin. “
Suprih berjalan kaku dalam sepatu dengan hak setinggi 9 cm. Suprih melihat bayangan dirinya sendiri yang bertambah tinggi di dalam cermin. Ada rasa bangga melihat dirinya terlihat seperti perempuan di dalam majalah di salon.
 Nanti nama kamu diganti dulu jadi Shanti. Biar keren seperti penyanyi Shanti. Ingat ya Shanti. Jadi jangan lupa pas dipanggil,“ ujar Lasmi sambil memoles wajah Suprih. “ Jangan lupa tersenyum. Kalau jalan yang anggun. Nanti aku tunjukkan sama kamu. Nah, beres sudah make up-nya. Nah, begini lho jalannya. “ Lasmi memperagakan cara berjalan yang anggun seperti kucing. “ Sekarang kamu coba! “
Suprih pun mencoba melangkahkan kaki seperti kucing dengan sepatu haknya yang tinggi itu. “ Masih agak kaku, tapi ya sudahlah. Nanti lama-lama kamu juga bakal terbiasa. Sekarang ayo kita berangkat. Mobil jemputan sudah menunggu. “
Mobil itu membawa Suprih, Lasmi dan teman-teman barunya ke kawasan Kota. Restoran itu remang-remang suasananya. Suprih disuruh menunggu bersama yang lain sambil memegang kartu dengan nomor 18 dalam sebuah ruangan dengan kaca. Di dalam ruangan itu Suprih bisa melihat di ruangan sebelah beberapa lelaki sedang melihat-lihat ke arah mereka. Seorang lelaki rapi berkulit putih agak gemuk melihat kepadanya terus.
 Shanti kamu ke sini! “ panggil Mami. Suprih berjalan ke ruangan sebelah tempat Mami dan lelaki itu berdiri. “ Shanti kamu temanin Bapak ini ya! Pak Tommy kenalkan ini Shanti. Shanti ini pak Tommy. Ayo salaman Shanti. Maaf Pak, Shanti masih baru di sini jadi masih malu-malu. Silahkan Pak, kamarnya nomor 501“
Lelaki itu menggenggam tangan Suprih dan menggandengnya menuju kamar bernomor 501. Ada tempat tidur di sana. Lelaki itu mengajak Suprih mengobrol. Tetapi pikiran Suprih melayang ke pasar Beringharjo. Bayangan Simbok dan Simbah menggendong karung seberat 50 kg berjalan menuruni tangga pasar. Ada rasa berontak di dalam hatinya saat lelaki itu mulai membuka pakaiannya.
Terngiang suara Simbok dan Simbah di benaknya, “ Tapi SiMbah dan SiMbok sudah nrimo kok hidup seperti ini. Kamu ndak usah repot mikiran Simbok dan Simbah. Kalau hari ini cuma bisa makan nasi pakai daging syukur. Tapi kalau besok harus makan nasi sama tempe tok ya tetap bersyukur masih bisa makan. Kalau pun Simbok atau Simbah sakit masih ada Yu Yatin, Mbah Besur dan Yu Rubiyem yang mau mijetin dan membagi makanan. Yang penting kamu bisa jaga diri. Ingat lho Nduk. Hati-hati di Jakarta banyak orang jahat. “
Air matanya mengalir saat lelaki itu mulai menggauli tubuh Suprih. Teringat kata-kata Lasmi. “ Apa kamu ndak kasihan sama Simbok dan Simbah yang masih mesti nggendong puluhan kilo di umur setua itu? Uangnya lebih banyak lho. Bisa kamu simpan dan kasih ke Simbok dan Simbah supaya mereka nggak harus nggendong terus. Seminggu kamu bisa mendapat ratusan ribu. Di Jakarta asal kamu kasih servis lebih, tipnya besar lho. “
Keringat lelaki itu bercampur dengan air mata Suprih. Suara Simbok kembali terngiang di kepala Suprih. “ Nggendong itu nggak perlu ijazah. Dapat uangnya biar sedikit tapi cepat dan halal.”
* * *
Sementara itu di pondokan Mbok Sanem di Ledok Ratmakan.
Praanggg……
Terdengar suara gelas pecah akibat Mbok Sanem menyenggolnya tanpa sengaja sampai jatuh. “ Aduh ada apa ya sama Suprih ya Mbah? Aku takut ini pertanda buruk. “
 Sudah kita berdoa saja supaya Suprih selamat. Dia kan berangkat dengan niat baik, “ harap Mbah Menir.

TAMAT

No comments:

Post a Comment