Sunday, July 25, 2010

GRAHA MEWAH GUBUK MUNGIL, SEBUAH ANTITHESIS



Beberapa kali terkait dengan pekerjaan saya harus berhubungan dengan pemilik rumah dengan beragam dimensi. Mulai dari yang ukurannya menurut saya sangat sempit sehingga terasa agak tidak manusiawi. Hingga yang sangat besar sampai-sampai rasa terasa mengintimidasi.

Saya sendiri saat menemui klien yang memiliki rumah dengan ukuran yang tidak besar dengan gaya yang sederhana, dapat merasakan kehangatan suasana rumah itu. Seringkali kehangatan suasana rumah itu dipengaruhi oleh kepribadian keluarga penghuni rumah. Adakalanya karena dimensi hunian yang terbatas sementara jumlah penghuninya tidak sebanding, maka suasana rumah itu berubah menjadi tidak menyenangkan pula untuk dihuni. Saya dapat merasakan aura stres dan ketegangan pada penghuni rumah yang merasa tidak nyaman akibat terbatasnya ruang gerak dan sirkulasi di dalam rumah. Rumah berdimensi luas terbatas dengan jumlah penghuni berlebih akan membuat rumah terasa tidak nyaman. Akibatnya penghuni rumah cenderung untuk pergi keluar rumah untuk mendapatkan kenyamanan. Akibatnya hubungan pun dapat menjadi renggang. Terbatasnya dimensi luas hunian juga berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Pengaruh hunian dengan dimensi luas terbatas menyebabkan minimnya privasi para penghuni. Akibat hal tersebut membuka peluang lebih besar terhadap terjadinya pelecahan seksual dari anggota keluarga atau incest. Sayangnya saya sudah tidak memiliki sumber bacaan itu lagi untuk saya tunjukkan sebagai referensi. Kalau tidak salah ingat sih dari sebuah media cetak sekitar satu dekade yang lalu. Saya jadi berpikir apakah RSS itu masih layak untuk ditawarkan kepada masyarakat menengah ke bawah. Karena seingat saya dalam sumber tersebut yang menjadi bahan penelitian justru masyarakat menengah ke bawah yang memiliki rumah yang tentunya berukuran di bawah standar sederhana.

Tapi bukan berarti tinggal di rumah yang mungil tak ada positifnya. Seringkali saya merasakan di rumah yang mungil memiliki suasana kehangatan karena interaksi antar penghuninya yang sangat dekat, erat, dan lekat.

Tetapi saat berkunjung ke rumah lain, yang berukuran jauh lebih besar, lebih mewah dari rumah dalam sinetron manapun yang pernah Anda tonton, saya merasakan suasana keterasingan. Saya merasa kecil berada di dalam rumah yang sangat besar dan megah itu. Mungkin karena saya bukan berasal dari keluarga kaya.
Tapi kesan seperti itu biasanya timbul saat saya berada di tempat ibadah, seperti di gereja atau saat saya melihat Masjid At'tien yang memancarkan keindahan konseptual yang luar biasa itu. Jadi terpikir oleh saya, apakah rumah kini telah menjadi tempat ibadah untuk memuja diri sendiri dalam trend narsisme? Segala kekayaan dipertunjukkan dengan perencanaan rumah yang sangat megah secara berlebihan meski hanya dihuni segelintir orang.

Seringkali yang ditemukan adalah rumah berukuran mega ternyata kehilangan suasana kehangatannya. Meskipun telah dirancang dengan dekorasi yang menimbulkan suasana hangat. Dimensi yang berlebihan dari sebuah rumah membuat hunian tersebut kehilangan korelasinya dengan kenyataan jumlah penghuni dengan ruang gerak dan sirkulasinya. Terutama jika jumlah penghuni yang minim dibandingkan dengan besarnya dimensi rumah. Apalagi ditunjang dengan fasilitas tv serta yang lainnya di masing-masing kamar yang membuat sebuah kamar justru menjadi sebuah hunian kecil.

Kalau saya sih mungkin akan memilih ukuran rumah yang sesuai dengan kebutuhan jumlah anggota keluarga. Itu sih baru teori. Mungkin kalau saya menjadi super kaya, jangan-jangan saya tergoda memiliki rumah superbesar dan supermewah.

Ya seperti ada ungkapan yang bilang a house is not a home. Bukan berarti sudah punya rumah Anda bisa merasakan nyamannya tinggal di rumah itu. Bisa mendapatkan perhentian setelah seharian bekerja di luar, bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya.

Dulu rasanya sewaktu masih kanak-kanak, saya masih sering mengalami menonton TV atau makan di meja makan bersama seluruh anggota keluarga. Sekarang di kota besar seperti Jakarta, rasanya hal-hal seperti itu sudah semakin eksklusif. Mungkin peningkatan kesejahteraan keluarga justru berbanding terbalik dengan keharmonisan dan kehangatan keluarga. Kalau sudah begini saya jadi ungkapan kalau kualitas lebih penting daripada kuantitas itu sebenarnya menyesatkan. Bagaimana kita menciptakan hubungan kekeluargaan dalam suasana yang berkualitas jika kuantitas pertemuan juga minim? Tanpa kuantitas tak akan tercipta interaksi yang intensif, tanpa intensitas tak ada ikatan yang rekat, tanpa kerekatan tak ada kehangatan. Tapi seringkali kita menghibur diri bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.

Jadi pilih yang mana?


picture courtesy of mauirealestate and ridgewoodfrontporch

2 comments:

  1. Hampir semua artikel terakhir anda saya baca seluruhnya. Sangat menarik. Terimakasih sudah mau berbagi informasi dan pengetahuan ke ruang publik.

    Damai, sejahtera bersama anda-wayan

    ReplyDelete